Rabu, 15 Juli 2026

Kebodohan sebagai Ketidaktahuan akan Ketidaktahuan ala Sokrates

 


Selamat datang, para pembaca budiman yang (semoga) sadar akan batas pengetahuannya! Hari ini, kita berkesempatan menyelami samudra kebijaksanaan (dan mungkin juga kekonyolan) bersama dua ikon yang tak lekang oleh waktu, bahkan mungkin oleh dimensi. Siapa lagi kalau bukan Profesor Dr. Mesem Ngguyu, S.S., S.Sos., S.Pd., S.H., S.E., S.Kom., S.T., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Kom., M.T., M.H., Ph.D., D.Litt. (selanjutnya kita sapa singkat PMN, karena napas kita bisa habis hanya untuk menyebut gelarnya), sang Dosen Filsafat sekaligus Ahli Segala Bidang di Alam Semesta. Dan tentu saja, tak kalah gemilang, Mbak Brenda Ganesha, S.Pd., S.Hub.Int., S.T. (MBG), Jurnalis, Presenter, Pengusaha Keripik Singkong, dan CEO Studio 705. Mereka berdua akan mengupas tuntas sebuah konsep kuno yang relevan hingga hari ini: Kebodohan sebagai Ketidaktahuan akan Ketidaktahuan, ala Sokrates!

 

 

Pembukaan Wacana: Sang Ahli dan Sang Penanya

 

Suasana di Studio 705 begitu hidup. Aroma keripik singkong buatan Mbak Brenda samar-samar tercium, bercampur dengan aura intelektual yang dipancarkan oleh Prof. Mesem Ngguyu. Mbak Brenda, dengan senyum menawan dan tatapan mata setajam elang mencari diskon, memulai percakapan.

 

MBG: Selamat pagi, siang, sore, malam, atau kapan pun Anda membaca artikel ini, Prof. Mesem Ngguyu! Sebuah kehormatan besar bagi kami di Studio 705, yang bahkan namanya pun kami curi dari jam operasional warung kopi tetangga, untuk kedatangan Anda. Dengan gelar sepanjang rel kereta api Trans-Jawa itu, Prof. ini kan ahlinya segala bidang. Mulai dari filsafat, ekonomi makro, sampai mungkin cara memproduksi keripik singkong anti-melempem. Betul, Prof?

 

PMN: (Tersenyum simpul, mengibaskan jubah akademisnya yang entah terbuat dari apa, mungkin serat optik hasil risetnya sendiri) Ah, Mbak Brenda, Anda ini terlalu merendah. Gelar itu hanyalah aksesoris, seperti stiker di laptop yang sebenarnya tidak menambah kecepatan prosesor. Intinya, saya hadir di sini bukan untuk pamer gelar, melainkan untuk berbagi esensi dari pemikiran agung. Dan ya, soal keripik singkong, saya punya teori relativitas rasa yang bisa membuatnya renyah abadi, tapi itu topik lain.

 

MBG: Luar biasa! Baiklah, Prof. Tanpa berlama-lama, kita akan membahas sebuah adagium kuno yang relevan sampai sekarang, bahkan mungkin lebih relevan di era media sosial ini. Yaitu, tentang kebodohan. Sokrates pernah berkata:

 

"Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa."

 

MBG: Konon, kebodohan sejati itu bukan minimnya pengetahuan, melainkan ketiadaan kesadaran akan batas pengetahuan sendiri. Orang bodoh yang merasa pintar jauh lebih berbahaya daripada orang yang sadar dirinya belum tahu. Bagaimana pandangan Prof. tentang ini?

 

 

Menggali Kedalaman Ketidaktahuan

 

PMN: (Menghela napas panjang, seolah sedang menyedot seluruh oksigen di studio) Mbak Brenda, Anda menyentuh inti dari kebijaksanaan. Pernyataan Sokrates itu, walau terdengar paradoks, adalah kunci pencerahan. Bayangkan sebuah ember. Orang yang tahu bahwa ia tidak tahu, itu seperti ember kosong yang siap diisi. Ia punya ruang untuk belajar, untuk menyerap. Ia tahu batasnya. Ia rendah hati.

 

MBG: Seperti saya, Prof? Ember kosong yang siap diisi ilmu dari Anda?

 

PMN: (Tertawa renyah, seperti keripik singkong yang sempurna) Tepat sekali, Mbak Brenda! Anda adalah ember platinum dengan ukiran berlian, siap menampung segala mutiara kebijaksanaan. Namun, orang bodoh yang merasa pintar, itu seperti ember yang merasa sudah penuh. Bahkan mungkin ia mengira embernya penuh, makanya tidak mau mengisi dengan pengetahuan baru karena ia yakin sudah tahu segalanya.

 

MBG: Ah, saya paham! Ini seperti orang yang baru baca satu judul berita di media sosial lalu merasa sudah menguasai seluruh konstelasi politik global dan berhak menceramahi dosen hubungan internasional. Padahal, yang dibaca cuma judulnya saja, isinya belum tentu.

 

PMN: (Mengangguk-angguk setuju, seolah baru saja menemukan rumus gravitasi baru) Itu adalah ilustrasi modern yang sangat akurat! Fenomena ini kian merajalela di era digital, di mana informasi melimpah ruah, namun kebijaksanaan justru langka. Orang-orang dengan "ilmu satu paragraf" ini seringkali menjadi lebih vokal dan dogmatis. Mereka tidak hanya tidak tahu, tapi juga tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Ini adalah tingkat kebodohan yang paling berbahaya, karena ia menggerogoti fondasi masyarakat yang rasional.

 

 

Bahaya Orang Bodoh yang Merasa Pintar

 

MBG: Jadi, Prof, kebodohan jenis ini bukan hanya masalah personal, ya? Tapi bisa jadi masalah sosial, bahkan nasional?

 

PMN: Tentu saja! Bayangkan seorang pilot yang merasa pintar, padahal dia tidak tahu cara menyalakan mesin pesawat. Atau seorang dokter bedah yang merasa ahli, padahal dia tidak tahu perbedaan antara usus buntu dan usus yang sudah dimasak rendang. Ini adalah bencana! Dalam skala yang lebih luas, orang bodoh yang merasa pintar bisa membuat kebijakan publik yang merugikan, menyebarkan hoaks yang memecah belah, atau bahkan memimpin revolusi yang berakhir dengan lebih banyak masalah daripada solusi.

 

MBG: Aduh, Prof, analogi rendang itu bikin saya lapar. Tapi poinnya sangat jelas! Saya sering melihat ini di kolom komentar media sosial. Ada yang berkomentar tentang kebijakan ekonomi negara seolah dia adalah peraih Nobel Ekonomi, padahal mungkin dia masih bingung membedakan inflasi dan infeksi.

 

PMN: (Menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis) Itu adalah epidemi, Mbak Brenda! Sindrom Dunning-Kruger, jika Anda mau menggunakan istilah psikologisnya. Orang yang kurang kompeten seringkali melebih-lebihkan kemampuannya. Mereka tidak memiliki kemampuan metakognitif untuk menyadari ketidakmampuan mereka sendiri. Ironisnya, semakin bodoh seseorang dalam suatu bidang, semakin besar kemungkinan ia merasa dirinya ahli. Ini seperti orang yang tidak bisa berenang tapi nekat menyeberangi Samudra Pasifik dengan ban dalam bekas.

 

 

Solusi dan Refleksi Diri

 

MBG: Lalu, bagaimana kita bisa mengatasi fenomena ini, Prof? Apakah kita harus membawa cermin besar ke mana-mana dan menyuruh setiap orang berkaca, "Sadarlah, kau mungkin tidak sepintar yang kau kira!"?

 

PMN: (Tersenyum kembali, kali ini dengan kilatan jenaka di matanya) Ide cermin itu menarik, Mbak Brenda, tapi mungkin kurang praktis dan bisa menyebabkan kemacetan lalu lintas. Solusinya dimulai dari diri sendiri, dan itu adalah kerendahan hati intelektual. Kita harus berani mengakui, "Aku tidak tahu." Bukan berarti kita menyerah pada ketidaktahuan, tetapi justru membuka pintu untuk mencari tahu, untuk bertanya, untuk belajar.

 

PMN: Pendidikan formal memang penting, tapi pendidikan sejati adalah proses seumur hidup untuk terus-menerus mengikis ilusi bahwa kita sudah tahu segalanya. Pertanyakan asumsi-asumsi kita, dengarkan orang lain dengan pikiran terbuka, dan jangan pernah malu untuk berkata, "Tolong jelaskan lebih lanjut," atau "Saya belum pernah memikirkan itu."

 

MBG: Jadi, intinya adalah kesadaran diri, ya Prof? Kesadaran bahwa kita ini hanya sebutir debu di alam semesta pengetahuan yang maha luas ini?

 

PMN: Persis! Bahkan sebutir debu pun masih punya gravitasi, Mbak Brenda. Ini tentang menumbuhkan rasa ingin tahu yang tulus dan menyingkirkan ego. Ego adalah musuh utama kebijaksanaan. Ia membangun dinding di sekitar pikiran kita, menghalangi cahaya pengetahuan baru masuk. Orang yang bijak tahu bahwa ia selalu bisa belajar dari siapa saja, bahkan dari anak kecil yang menanyakan mengapa langit biru. Pertanyaan sederhana seringkali mengandung kebijaksanaan yang mendalam.

 

 

Penutup Wacana: Sebuah Pencerahan (atau Justru Kebingungan Baru?)

 

MBG: Prof. Mesem Ngguyu, ini adalah pencerahan yang luar biasa! Saya merasa seperti embrio yang baru saja menetas dari telur kebodohan dan siap terbang menuju cakrawala kebijaksanaan. Terima kasih banyak atas waktu dan ilmu yang Anda bagikan. Pesan terakhir untuk para pembaca, Prof?

 

PMN: (Menatap kamera dengan tatapan filosofis yang memesona, mungkin sedang memikirkan rumus baru untuk keripik singkong anti-melempem) Para pembaca budiman, ingatlah selalu: dunia ini terlalu luas, pengetahuan terlalu dalam, dan hidup terlalu singkat untuk kita habiskan dengan merasa tahu segalanya. Jadilah ember yang selalu siap diisi, bukan jadi ember yang seolah-olah sudah penuh tapi sebenarnya kosong. Jadilah pembelajar seumur hidup. Dan yang terpenting, jangan pernah takut untuk mengakui, "Aku tidak tahu." Karena di situlah, di ambang ketidaktahuan kita, pintu menuju kebijaksanaan yang sejati mulai terbuka. Sekarang, jika Anda permisi, saya harus segera pulang. Saya baru ingat ada janji dengan seorang pengagum Albert Einstein untuk membahas teori relativitas rasa keripik singkong.

 

MBG: (Terperangah, lalu tersenyum lebar) Sebuah penutup yang epik! Terima kasih, Prof. Mesem Ngguyu! Dan terima kasih kepada Anda semua yang telah menyimak wacana eksklusif ini di Studio 705. Semoga kita semua semakin sadar akan ketidaktahuan kita, dan terus haus akan ilmu. Sampai jumpa di episode berikutnya, dengan topik yang tak kalah membuat kepala berasap!

 

Spirov Lengking, 620270610746