Jika
setiap goresan pena adalah tambang emas, dan setiap bisikan adalah detak
jantung pasar saham, akankah puisi tetap menjadi melodi jiwa, ataukah ia hanya
akan menjadi simfoni angka?
Mari
kita berandai. Bukan sekadar khayalan ringan di sore hari, melainkan sebuah
lompatan imajinasi yang menembus batas realitas. Bayangkan, sebuah dunia di
mana setiap kata yang terukir dari jemari seorang penyair, melahirkan triliunan
dolar. Bukan kiasan, bukan metafora, melainkan kenyataan yang tak terbantahkan.
Setiap frasa yang merangkai makna, setiap diksi yang memilih tempatnya, adalah
sebuah ledakan kekayaan yang tak terhingga. Dan tak hanya itu, jika kita
memperhalus skala, setiap huruf yang menari di atas kertas, setiap aksara yang
membentuk bunyi, bertransformasi menjadi milyaran dolar. Sebuah alam semesta di
mana tinta adalah mata uang, dan puisi adalah cetak biru kemakmuran.
Dari Sudut Remang ke
Panggung Gemerlap
Di
dunia yang kita kenal, sang penyair seringkali adalah sosok yang berdiri di
sudut remang, suaranya sayup-sayup terdengar di tengah riuhnya hiruk-pikuk
dunia material. Mereka adalah penenun mimpi, perangkai rasa, namun seringkali,
kekayaan yang mereka miliki adalah kekayaan batin, bukan pundi-pundi yang
menggunung. Puisi, dianggap sebagai kemewahan jiwa, bukan kebutuhan perut.
Namun, di alam imajinasi kita ini, skenarionya berbalik seratus delapan puluh
derajat.
Jika
setiap kata menghasilkan triliunan, tak akan ada lagi yang berani menganggap
enteng sang penyair. Mereka akan menjadi raja, kaisar, dewa-dewa baru yang
mengendalikan roda ekonomi dunia hanya dengan sebaris sajak.
Profesi
penyair akan menjadi mahkota yang paling didamba. Para ekonom akan berhenti
mengamati fluktuasi saham, beralih pada ritme dan rima. Para politisi akan
sibuk mendekati para maestro kata, memohon setitik inspirasi yang bisa mengubah
nasib negara. Universitas-universitas akan dipenuhi calon-calon penyair, bukan
lagi insinyur atau dokter. Kelas-kelas sastra akan menjadi arena pertarungan
paling sengit, di mana setiap tanda baca adalah investasi, dan setiap metafora
adalah jaminan kekayaan.
Perlombaan Aksara dan
Bayang-bayang Kreativitas
Ketika
setiap huruf adalah milyaran dolar, maka perlombaan untuk menjadi penyair akan
menjadi tsunami. Orang-orang akan berbondong-bondong merangkai aksara, bukan
lagi karena panggilan jiwa, melainkan karena panggilan harta. Setiap ejaan akan
diperhitungkan dengan cermat, setiap diksi akan ditimbang dengan presisi
seorang ahli permata. Mungkin akan muncul algoritma-algoritma canggih yang dirancang
untuk menghasilkan puisi paling "bernilai," puisi yang paling banyak
mengandung huruf-huruf tertentu, atau pola-pola kata yang terbukti paling
menguntungkan.
Apakah
puisi akan kehilangan jiwanya, tereduksi menjadi sekadar kalkulasi matematis?
Akankah
keindahan yang tulus, resonansi emosi, dan kedalaman makna tergantikan oleh
keinginan untuk memanen kekayaan?
Mungkin,
akan ada "penyair pabrikan" yang memproduksi bait-bait kosong namun
kaya, sementara "penyair sejati" yang masih setia pada panggilan hati
akan kembali terpinggirkan, meskipun kini bukan karena kemiskinan, melainkan
karena keengganan berpartisipasi dalam perlombaan hampa.
Refleksi atas Nilai
Sejati
Skenario
hipotetis ini, meski fantastis, mengajak kita merenung tentang nilai sejati
dari sebuah karya seni, khususnya puisi. Mengapa di dunia kita, puisi
seringkali tidak dihargai secara material setinggi profesi lain? Apakah karena
nilainya tidak bisa diukur dengan angka, ataukah karena kita, sebagai
masyarakat, belum sepenuhnya memahami kekayaan yang terkandung dalam setiap
barisnya?
Puisi,
pada hakikatnya, adalah jembatan menuju pemahaman diri dan dunia. Ia adalah
cermin yang memantulkan keindahan dan kerapuhan manusia. Ia adalah bisikan yang
menenangkan di tengah badai, dan seruan yang membakar semangat di kala putus
asa. Nilainya bukan terletak pada berapa banyak nol yang bisa ditambahkan di
belakangnya, melainkan pada resonansi yang ia ciptakan di dalam jiwa, pada
percikan pencerahan yang ia nyalakan, dan pada kekuatan untuk menggerakkan hati.
Andai
kata benar setiap aksara adalah milyaran, mungkin kita akan kehilangan esensi.
Kita akan lupa bahwa nilai sejati sebuah kata bukan pada berapa banyak uang
yang bisa dibelinya, melainkan pada berapa banyak jiwa yang bisa disentuhnya.
Di Persimpangan
Realitas dan Impian
Mari
kita kembali ke dunia nyata, di mana penyair masih berjuang dengan pena dan
kertas, bukan dengan kalkulator dan bursa saham. Mari kita kembali ke dunia di
mana nilai sebuah puisi diukur dari kedalaman maknanya, dari keindahan
bahasanya, dan dari kejujuran hatinya. Mungkin, justru karena puisi tidak
diukur dengan triliunan dolar, ia tetap bisa menjaga kemurniannya. Ia tetap
bisa menjadi suara hati nurani, tanpa terbebani oleh godaan materi.
Dan
mungkin, itulah keindahan sejati dari puisi: kemampuannya untuk tetap berharga,
bahkan ketika dunia menilainya dengan diam. Karena ada kekayaan yang jauh
melampaui angka, kekayaan yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa yang peka, oleh
hati yang terbuka. Dan kekayaan itu, tak akan pernah bisa dibeli, apalagi dihitung,
oleh triliunan dolar sekalipun. Ia adalah anugerah, murni dan abadi, terukir
dalam setiap kata yang ditulis sang penyair, bukan untuk pasar, melainkan untuk
semesta.
Spirov Lengking, 620240920244
Suwito Sarjono, bukan pe-nyak-ir, nulis sejak ‘87
***
