Sabtu, 26 September 2026

Tanah yang Menjadi Kabut



________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya kebetulan belaka.

________________________________________________________________________

 

Tanah yang Menjadi Kabut

 

Langit di atas Klaten merona jingga yang sakit, seolah-olah matahari enggan tenggelam ke dalam perut bumi yang kering. Markiyo berdiri di pematang, menatap dua bahu tanah yang retak-retak. Di tangannya, selembar kertas lusuh dengan cap merah bergambar arit dan palu terasa lebih berat daripada cangkulnya.

 

"Kamu masih menatap tanah itu seperti menatap bidadari, Mar?"

 

Markiyo menoleh. Karmo berdiri di belakangnya, menyeringai dengan gigi yang menghitam karena tembakau.

 

"Tanah ini janji, Mo. Bukan cuma mimpi," jawab Markiyo pendek.

 

"Janji dari siapa? Pak Haji Dullah yang pelitnya minta ampun itu?"

 

"Bukan dari dia. Dari organisasi. Kita sudah rapat di balai desa kemarin. Aksi Sepihak itu sah menurut undang-undang bagi hasil. Haji Dullah punya tanah luasnya tidak masuk akal, sementara kita makan tiwul setiap hari."

 

Karmo mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang ganjil. "Tapi suasananya beda sekarang, Mar. Di pasar tadi pagi, orang-orang mulai bicara soal 'pembersihan'. Kamu tidak merasa ada yang aneh?"

 

"Aneh bagaimana? Kita cuma minta hak. Landreform itu aturan negara."

 

"Ini bukan soal aturan lagi. Ini soal siapa yang punya bedil. Kamu itu pimpinan BTI di sini, semua mata menujumu."

 

Markiyo mengusap debu di celananya. "Aku tidak takut. Kalau tanah ini jatuh ke tanganku, anakku bisa sekolah ke kota. Aku lelah jadi jongos di tanah sendiri."

 

"Tapi kalau tanah ini malah jadi kuburanmu sendiri, bagaimana?"

 

Markiyo terdiam. Angin sore berhembus dingin, membawa bau kemenyan entah dari mana.

 

"Jangan bicara sembarangan, Mo. Malam ini kita kumpul lagi di rumah panggung. Kita tentukan jadwal pembagian patok tanah Haji Dullah."

 

Karmo menatap Markiyo lama, matanya menyipit misterius. "Aku hanya tidak ingin melihatmu jadi tumbal politik yang lebih besar dari sawah ini."

 

"Apa maksudmu?"

 

"Kamu dengar suara truk tentara di jalan raya tadi?"

 

"Hanya truk lewat, Mo. Kenapa kamu jadi pengecut begini?"

 

Karmo meludah ke tanah yang retak. "Bukan pengecut, Mar. Aku hanya mulai mencium bau amis di udara yang seharusnya bau tanah basah."

 

Markiyo mendengus, menyimpan kertasnya rapat-rapat. "Besok, patok itu akan tertancap. Haji Dullah tidak bisa melawan hukum sejarah."

 

Karmo tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan amplas. "Hukum sejarah atau hukum rimba?"

 

"Hukum rakyat!" tegas Markiyo.

 

Karmo melangkah pergi, namun ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Sastro, tetangga sebelahmu itu... dia baru saja mengasah parangnya sejak ashar tadi, dan dia bukan anggota BTI."

 

Markiyo mengerutkan kening. "Lalu kenapa?"

 

"Dia tidak mengasah parang untuk memotong padi yang belum kuning, Mar."

 

***

 

 

Lampu minyak bergoyang ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding bambu. Di hadapan Markiyo, sepuluh pria duduk melingkar dengan wajah-wajah yang keras. Mereka adalah para petani yang hidupnya habis untuk membayar sewa tanah.

 

"Malam ini kita bagi tugas," Markiyo memulai pembicaraan. "Bagian utara sampai pohon beringin adalah hak kelompok kita."

 

"Haji Dullah mengancam akan lapor polisi, Pak Ketua," sahut seorang pria muda bernama Gito.

 

"Polisi tidak bisa berbuat apa-apa kalau rakyat bersatu, Git. Tujuh Setan Desa harus tumbang. Haji Dullah itu nomor satu di daftar kita."

 

"Tapi Pak Haji punya hubungan dengan orang-orang di kota," bisik Gito ragu.

 

Markiyo memukul lantai bambu. "Kota itu jauh! Tanah ini di bawah kaki kita! Kalian mau selamanya jadi kacung?"

 

"Kami mau tanah itu, Mar. Tapi kabar dari Jakarta... katanya ada jenderal yang diculik," Karmo menyela dari sudut ruangan yang gelap.

 

Ruangan seketika senyap. Suara jangkrik di luar terdengar seperti teriakan.

 

"Itu urusan orang besar di Jakarta," tukas Markiyo cepat. "Jangan biarkan berita itu memecah fokus kita. Fokus kita adalah tanah!"

 

"Bagaimana kalau berita itu mengubah segalanya di sini?" tanya Karmo lagi.

 

"Tidak akan! Organisasi kita kuat. Kita punya jutaan anggota!"

 

Tiba-tiba, pintu rumah diketuk dengan keras. Semua orang tersentak. Markiyo berdiri, tangannya meraih sebilah celurit yang tersandar di tiang.

 

"Siapa?" teriak Markiyo.

 

"Buka! Ini Sastro!"

 

Markiyo membuka pintu. Sastro berdiri di sana dengan wajah pucat, matanya liar menyapu ruangan.

 

"Ada apa, Sas? Kamu mau daftar jadi anggota?" sindir Markiyo.

 

"Bubarkan rapat ini, Mar! Sekarang juga!" Sastro bicara dengan nada mendesak.

 

"Kenapa? Kamu disuruh Haji Dullah?"

 

"Bukan! Kamu tidak dengar radio? Situasi sudah berbalik! Di kota, orang-orang kalian mulai ditangkapi. Truk-truk sudah masuk ke kecamatan sebelah!"

 

Markiyo tertawa sinis. "Kamu hanya ingin menakut-nakuti kami supaya tidak jadi mengambil tanah itu, kan?"

 

Sastro mencengkeram kerah baju Markiyo. "Dengarkan aku, bodoh! Aku tetanggamu. Aku tidak mau melihat anak istrimu menangis besok pagi. Bakar semua atribut itu! Bakar kertas-kertas merah itu!"

 

"Lepaskan!" Markiyo menyentak tangan Sastro. "Kamu pengecut yang tunduk pada tuan tanah!"

 

"Aku bukan tunduk pada tuan tanah, aku sedang berusaha menyelamatkan nyawamu dari amukan orang-orang desa yang marah!"

 

"Marah karena apa? Karena kami menuntut hak?"

 

"Karena kalian dianggap pengkhianat negara!" teriak Sastro.

 

Suasana menjadi mencekam. Anggota BTI yang lain mulai saling pandang, keraguan mulai menjalar.

 

"Pulanglah, Sastro. Sebelum celurit ini bicara," ancam Markiyo.

 

Sastro mundur satu langkah, matanya menatap Markiyo dengan iba yang mendalam. "Tanah yang kamu dambakan itu, Mar... jangan sampai itu jadi lubang yang kamu gali sendiri."

 

"Pergi!"

 

Sastro menghilang ke dalam kegelapan malam. Markiyo berbalik ke arah teman-temannya.

 

"Jangan dengarkan dia! Dia cuma mata-mata!"

 

Namun, Karmo berdiri dan menyampirkan sarungnya. "Maaf, Mar. Aku pulang. Perasaanku tidak enak."

 

"Kamu juga, Mo?"

 

"Aku punya anak bayi, Mar. Tanah tidak ada gunanya kalau aku tidak punya kepala untuk melihatnya."

 

Satu per satu anggota rapat meninggalkan rumah Markiyo. Sunyi kembali menyergap, menyisakan bau minyak tanah yang terbakar.

 

Sumi, istri Markiyo, keluar dari balik tirai kamar dengan wajah sembab. "Mas, tolong... dengarkan Sastro."

 

"Kamu juga tidak percaya padaku, Sum?"

 

"Ini bukan soal percaya, Mas. Tapi lihatlah ke luar jendela. Kenapa lampu-lampu di rumah tetangga mendadak padam semua?"

 

Markiyo mengintip dari celah dinding. Desa itu gelap gulita, namun di kejauhan, ia melihat titik-titik cahaya obor yang bergerak mendekat.

 

"Itu mungkin patroli kita," gumam Markiyo, meski hatinya berdegup kencang.

 

"Bukan, Mas. Itu suara orang-orang yang berteriak menyebut namamu dengan penuh kebencian."

 

***

 

 

Suara deru mesin truk terdengar semakin jelas. Cahaya lampu sorot menembus kabut malam, menyapu dinding-dinding bambu rumah Markiyo. Markiyo memeluk Sumi yang menggigil. Di sudut ruangan, anak mereka yang baru berusia lima tahun terbangun dan mulai menangis.

 

"Sembunyi di bawah tempat tidur, Sum. Jangan keluar sampai aku panggil," bisik Markiyo.

 

"Mas, ayo lari lewat pintu belakang!"

 

"Kalau aku lari, mereka akan membakar rumah ini dengan kalian di dalamnya. Aku harus bicara."

 

Markiyo keluar ke teras. Di sana, puluhan orang sudah berkumpul. Ada Haji Dullah yang berdiri di barisan depan bersama beberapa pria berseragam hijau dan warga desa yang membawa bambu runcing.

 

"Mana pimpinan pemberontak itu?" teriak sebuah suara.

 

Markiyo berdiri tegak, meski lututnya gemetar. "Aku bukan pemberontak! Aku petani yang menuntut hak atas tanah!"

 

Haji Dullah maju, wajahnya yang biasanya tenang kini penuh amarah yang meluap. "Tanah siapa yang kamu maksud, Mar? Tanah yang aku beli dengan keringatku, lalu mau kamu rampas dengan secarik kertas merah itu?"

 

"Itu perintah undang-undang, Pak Haji!"

 

"Undang-undangmu sudah mati! Organisasimu sudah haram!" teriak seorang pemuda desa yang dulu sering dibantu Markiyo.

 

Markiyo menatap pemuda itu, kecewa. "Kamu... kamu lupa siapa yang membantumu saat bapakmu sakit, Man?"

 

"Itu dulu! Sebelum aku tahu kamu mau mengganti Tuhan dengan ideologimu!" sahut pemuda itu sambil mengacungkan parang.

 

Seorang petugas berseragam maju, senapannya teracung ke dada Markiyo. "Markiyo, menyerahlah. Serahkan daftar anggota BTI di desa ini, dan mungkin kami bisa mempertimbangkan nyawamu."

 

Markiyo tertegun. Janji organisasi terngiang di telinganya: Satu rasa, satu perjuangan. Jangan pernah mengkhianati kawan. Namun, di dalam rumah, ia mendengar isak tangis Sumi.

 

"Saya tidak punya daftar apa-apa," dusta Markiyo.

 

"Jangan bohong! Kami tahu kalian rapat setiap malam!" bentak petugas itu.

 

"Kami hanya bicara soal pupuk dan air!"

 

Haji Dullah tertawa dingin. "Pupuk yang kamu maksud adalah darah para tuan tanah, kan? Kami temukan dokumen di balai desa. Namamu ada di urutan teratas sebagai provokator Aksi Sepihak."

 

Situasi semakin panas. Massa mulai merangsek maju. Bau bensin mulai tercium. Seseorang melemparkan obor ke halaman rumah Markiyo.

 

"Bakar saja rumahnya! Bersihkan desa ini dari orang-orang merah!" teriak massa.

 

"Tunggu!" teriak Markiyo. "Jangan bakar rumah ini! Ada anak dan istriku di dalam!"

 

"Kalau begitu keluar dan menyerahlah seperti laki-laki!" sahut Haji Dullah.

 

Markiyo menoleh ke pintu rumahnya yang tertutup. Ia merasa terjebak dalam pusaran raksasa. Tanah yang ia impikan—tanah yang ia pikir akan memberinya martabat—kini terasa seperti beban yang menyeretnya ke dasar laut.

 

"Mar, lari!" teriak sebuah suara dari arah kegelapan. Itu suara Sastro.

 

Tiba-tiba, sebuah tembakan peringatan dilepaskan ke udara. Suasana menjadi kacau. Orang-orang mulai berteriak dan berlarian. Dalam kegaduhan itu, Markiyo merasakan sebuah tangan menariknya ke belakang rumah.

 

"Ikut aku, Mar! Lewat kebun jagung!" bisik Sastro yang muncul entah dari mana.

 

"Bagaimana dengan keluargaku?"

 

"Mereka tidak akan menyentuh perempuan dan anak kecil kalau kamu tidak ada di sana. Target mereka itu kamu!"

 

Markiyo ragu. Ia menatap rumahnya yang mulai dikelilingi massa. Ia melihat Sumi mengintip dari jendela dengan wajah penuh ketakutan.

 

"Ayo, Mar! Tidak ada waktu lagi!"

 

Markiyo berlari mengikuti Sastro, menembus rimbunnya batang jagung yang tajam menggores kulitnya. Di belakang, ia mendengar suara pintu rumahnya didobrak paksa.

 

"Di mana dia?!" teriak orang-orang di sana.

 

Markiyo terus berlari hingga mereka sampai di tepi sungai yang alirannya deras. Di sana, Sastro berhenti dan terengah-engah.

 

"Kenapa kamu menolongku, Sas? Bukankah kamu benci organisasiku?" tanya Markiyo.

 

Sastro menatap Markiyo dengan mata yang berkaca-kaca di bawah sinar bulan. "Aku tidak peduli dengan organisasimu, Mar. Tapi aku ingat saat kita masih kecil, kita sering mencuri mangga di kebun Haji Dullah bersama-sama. Aku tidak mau melihat teman masa kecilku mati karena politik yang dia sendiri tidak paham."

 

"Aku paham! Aku ingin tanah!"

 

"Tanah itu milik bumi, Mar. Bukan milik partai, bukan milik Haji Dullah. Kita hanya menumpang lewat."

 

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Cahaya senter menyambar-nyambar ke arah mereka.

 

"Itu mereka! Di dekat sungai!"

 

Sastro mendorong Markiyo ke arah semak-semak yang rimbun di pinggir tebing sungai. "Sembunyi di situ! Jangan bersuara!"

 

Markiyo meringkuk, menahan napas. Ia melihat Sastro berdiri tegak, sengaja menampakkan diri.

 

"Hei! Di sini!" teriak Sastro sambil berlari ke arah yang berlawanan dengan persembunyian Markiyo.

 

Massa mengejar Sastro, mengira itu adalah Markiyo. Markiyo hanya bisa terpaku, air mata menetes di pipinya yang kotor. Ia mendengar suara teriakan, suara pukulan, dan kemudian... keheningan yang panjang.

 

***

 

 

Pagi harinya, kabut tebal menyelimuti desa. Markiyo keluar dari persembunyiannya dengan tubuh yang kaku dan dingin. Ia berjalan mengendap-endap menuju desanya. Suasana terasa sangat sunyi, seolah-olah seluruh kehidupan telah tersedot habis.

 

Ia sampai di depan rumahnya. Rumah itu masih berdiri, namun jendelanya hancur dan dindingnya penuh dengan coretan cat merah bertuliskan "PENGKHIANAT".

 

"Sumi?" panggil Markiyo lirih.

 

Tidak ada jawaban. Ia masuk ke dalam. Rumah itu kosong. Barang-barangnya berantakan. Di atas meja makan, ia melihat piring berisi tiwul yang sudah dikerubuti semut.

 

Markiyo keluar dengan langkah gontai menuju sawah yang menjadi sengketa. Di sana, ia melihat kerumunan orang berkumpul di pinggir sungai. Hatinya mencelos.

 

Ia mendekat, mencoba tidak terlihat. Di tepi sungai, ia melihat sesosok tubuh tergeletak tertutup daun pisang. Haji Dullah berdiri di sampingnya dengan wajah datar.

 

"Kasihan Sastro," gumam seseorang di kerumunan. "Dia mencoba melindungi temannya yang merah itu, malah dia yang kena amuk massa karena dikira Markiyo."

 

Lutut Markiyo lemas. Ia ambruk di balik pohon besar. Sastro mati karena dirinya. Tanah yang ia perjuangkan tidak membuahkan apa-apa selain darah temannya sendiri.

 

"Dan Markiyo?" tanya orang lain.

 

"Dia hilang. Mungkin hanyut, mungkin sudah lari ke hutan. Tapi tentara sudah menandai namanya. Tidak akan ada tempat baginya di negeri ini."

 

Markiyo menatap tangannya yang kasar. Tangan seorang petani. Tangan yang hanya ingin memegang cangkul dan mengolah tanah sendiri. Kini tangan itu terasa sangat kotor.

 

Tiba-tiba, sebuah bayangan jatuh menimpanya. Markiyo mendongak. Karmo berdiri di sana dengan wajah yang tidak bisa ditebak. Karmo tidak berteriak, tidak memanggil orang. Ia hanya menatap Markiyo dengan tatapan kosong.

 

"Kamu masih hidup, Mar?" bisik Karmo.

 

Markiyo tidak menjawab. Ia hanya bisa terisak tanpa suara.

 

"Sumi dan anakmu dibawa ke rumah ibunya di desa seberang. Mereka aman untuk sementara. Tapi kamu... kamu harus pergi jauh, Mar."

 

"Ke mana, Mo? Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak punya apa-apa."

 

Karmo berjongkok, menyerahkan sebuah bungkusan kain kecil. "Ini ada sedikit nasi dan uang. Pergilah ke arah gunung. Jangan pernah kembali ke desa ini."

 

Markiyo menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. "Tanah itu, Mo... tanah janji itu..."

 

Karmo tersenyum getir, senyum yang lebih mirip sebuah luka. "Tanah itu sudah lama hilang, Mar. Sejak kita mulai membagi-baginya dengan kebencian, tanah itu sudah bukan milik kita lagi."

 

Markiyo berdiri, menatap sawah Haji Dullah untuk terakhir kalinya. Hijau padi yang mulai tumbuh seolah mengejeknya. Politik telah mengambil segalanya: persahabatan, keluarga, dan harapan.

 

"Kenapa kamu membantuku, Mo? Kamu juga bisa celaka."

 

Karmo menoleh ke arah kerumunan di pinggir sungai, lalu kembali menatap Markiyo.

 

"Karena aku juga anggota BTI, Mar. Dan aku tidak mau daftar nama yang kamu bawa itu jatuh ke tangan mereka."

 

Markiyo tertegun. Ia meraba sakunya. Kertas daftar anggota itu masih ada di sana.

 

"Bakar kertas itu sekarang, Mar," perintah Karmo dengan suara yang tajam dan dingin.

 

Markiyo mengeluarkan kertas itu. Kertas yang dulu ia anggap sebagai tiket menuju kemakmuran. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan korek api. Api menjilat kertas itu, mengubah nama-nama teman seperjuangannya menjadi abu yang diterbangkan angin gunung.

 

"Sekarang larilah, sebelum mereka sadar siapa yang sedang berdiri di bawah pohon ini," bisik Karmo.

 

Markiyo mulai melangkah mundur, matanya masih menatap abu yang melayang. Ia berbalik dan mulai berlari menuju hutan, meninggalkan desanya, meninggalkan mimpinya, meninggalkan tanah yang dijanjikan yang kini berubah menjadi kabut.

 

Di kejauhan, ia mendengar suara teriakan Haji Dullah yang menggelegar.

 

"Cari Markiyo sampai ketemu, hidup atau mati!"

 

Spirov Lengking, 62029032130801