Selasa, 29 September 2026

Gagal, Jegal, dan Jagal

 

________________________________________________________________________

Disclaimer:

Tulisan ini termasuk cerpen (cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak sengaja.

________________________________________________________________________

 

Gagal, Jegal, dan Jagal     



"Kamu itu harapan terakhir kami, Debok. Jangan bilang tidak sebelum memikirkannya matang-matang."

Pak RT Sodik meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan yang cukup keras di atas meja marmer. Di seberangnya, Bardebok hanya menatap kepulan uap kopi yang menari-nari. Ruang tamu rumah warisan kakeknya itu terasa lebih luas dan dingin dari biasanya.

"Saya hanya pengusaha, Pak RT. Urusan mengelola desa itu beda dengan mengelola kandang sapi atau toko sembako," jawab Bardebok pelan.

"Beda bagaimana? Kamu sudah menghidupi separuh warga Kosob!" seru Pak Kades lama yang akan segera pensiun. "Tanah yang dipajaki pemerintah itu, kamu yang kasih DP-nya buat warga. Rumah-rumah yang diperbaiki itu, semennya dari gudangmu. Siapa lagi yang punya legitimasi sebesar kamu?"

Bardebok menghela napas. "Itu semua karena warisan Kakek Brodo, Pak. Saya hanya menyalurkan."

"Justru itu! Darah Brodo Kumuso mengalir di tubuhmu. Dia dulu tokoh yang disegani, dermawan, dan tegas. Kamu adalah replika sempurnanya," Pak RT menyambar cepat.

Tiba-tiba, pintu depan diketuk dengan tidak sabar. Seorang pemuda tanggung masuk dengan napas tersengal.

"Pak! Warga sudah berkumpul di depan balai desa. Mereka membawa spanduk!"

Bardebok berdiri, sedikit panik. "Spanduk apa lagi?"

"Tulisannya: 'Bardebok atau Kosob Mati Suri'. Mereka bilang kalau Mas Debok tidak mendaftar hari ini, mereka akan memboikot Pilkades," lapor pemuda itu.

"Gila... itu namanya paksaan," gumam Bardebok.

"Itu namanya cinta, Debok," timpal Pak RT sambil menepuk bahu Bardebok. "Dukunganmu di atas kertas itu sembilan puluh sembilan persen. Tidak ada yang berani maju kalau kamu sudah menyatakan siap. Si Darsun yang biasanya ambisius saja langsung ciut nyalinya begitu mendengar namamu disebut-sebut warga."

Bardebok berjalan ke jendela, melihat ke arah gerbang rumahnya yang mulai dipenuhi kerumunan orang. Mereka berteriak memanggil namanya. Di mata mereka, Bardebok adalah orang suci. Sosok tanpa cela yang selalu punya solusi finansial bagi setiap masalah warga.

"Mas Debok, tolonglah. Hanya Anda yang bisa menyatukan Kampung Gedab dan seluruh Kosob," rengek si pemuda lagi.

"Saya butuh waktu untuk menyiapkan berkas," kata Bardebok akhirnya.

"Berkas apa? Akta kelahiran, ijazah, surat kelakuan baik? Semuanya sudah kami bantu urus ke kecamatan kemarin. Kamu tinggal tanda tangan di formulir pendaftaran ini," Pak RT mengeluarkan selembar kertas dari tas kulitnya yang kusam.

Bardebok menatap kertas itu seolah-olah itu adalah surat vonis mati. "Ijazah kakek dan dokumen keluarga... saya harus mengambilnya di brankas tua di gudang belakang."

"Nah, begitu dong! Kami tunggu di sini. Jangan lama-lama, pendaftaran tutup jam empat sore," kata Pak RT dengan wajah cerah.

Bardebok berbalik, melangkah menuju bagian belakang rumahnya yang besar. Ia melewati lorong-lorong gelap yang dipenuhi foto tua Kakek Brodo Kumuso. Di setiap foto, kakeknya selalu tersenyum wibawa dengan setelan jas kuno.

"Kenapa perasaan saya tidak enak begini?" bisik Bardebok pada dirinya sendiri.

Ia sampai di depan sebuah pintu jati tebal yang jarang dibuka. Kunci besar di tangannya terasa sangat berat.

"Mas Debok, kenapa berhenti di situ?" suara Pak RT berteriak dari ruang tamu.

"Sebentar, kuncinya agak macet!" balas Bardebok.

Ia memutar kunci itu. Klik. Pintu terbuka, menyemburkan aroma debu dan kertas tua yang lembap. Di sudut ruangan, sebuah peti besi peninggalan era kolonial berdiri tegak. Itulah brankas rahasia Brodo Kumuso.

"Ayo cepat, Mas, warga sudah mulai anarkis di luar!" seru si pemuda dari kejauhan.

Bardebok membuka brankas itu dengan kombinasi angka yang sudah ia hafal sejak kecil. Di dalamnya, tumpukan sertifikat tanah dan emas batangan tertata rapi. Namun, di bawah tumpukan itu, ia melihat sebuah map kulit berwarna merah darah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Map apa ini?" gumamnya.

Ia membukanya. Matanya terbelalak melihat sebuah kartu identitas tua dengan logo partai terlarang yang sangat kecil di pojok bawah, tertulis nama: Brodo Kumuso – Komandan Operasi Pemuda Rakyat.

"Mas Debok, sudah ketemu belum?"

 

*

 

 

Bardebok merasa lututnya lemas. Ia terduduk di lantai gudang yang dingin, memegang map merah itu dengan tangan gemetar. Ia membolak-balik lembaran di dalamnya. Ini bukan sekadar dokumen organisasi. Ini adalah jurnal harian.

"Ini tidak mungkin," bisiknya.

Di halaman pertama, tertulis tanggal Oktober 1965. Tulisannya rapi, dingin, dan tanpa penyesalan.

Hari ini, target di Desa Ngicek sudah diselesaikan. Si tukang kayu itu terlalu banyak bicara soal agama. Kita buat dia diam selamanya di lubang hutan jati. Hartanya kita sita untuk perjuangan.

Bardebok membalik halaman berikutnya. Isinya lebih mengerikan.

Agitasi di pasar berhasil. Provokasi antara kelompok pemuda berhasil menyulut tawuran. Tiga orang tewas. Bagus. Dalam kekacauan, kita bisa menyingkirkan lawan politik tanpa tangan kita terlihat kotor.

"Mas Debok? Kok lama sekali? Kami masuk ya?" suara Pak RT terdengar mendekat ke arah gudang.

"Jangan! Jangan masuk!" teriak Bardebok dengan suara serak.

Langkah kaki di luar berhenti. "Loh, kenapa? Ada masalah?"

"S-saya... saya sedang mencari akta kelahiran yang terselip. Tolong tunggu di depan saja!" Bardebok berusaha menstabilkan suaranya.

"Ya sudah, tapi cepat ya. Waktu kita tidak banyak," sahut Pak RT dari balik pintu.

Bardebok kembali memfokuskan matanya pada dokumen itu. Di sana ada manifes rahasia. Kakeknya, Brodo Kumuso, seharusnya ditangkap dalam pembersihan tahun '66. Namun, ada catatan kaki di sana: 'Identitas dialihkan menjadi pedagang sapi dari luar daerah. Nama asli dihilangkan dari daftar pencarian berkat bantuan orang dalam yang sudah kita suap dengan emas.'

Bardebok menyentuh emas-emas batangan di dalam brankas. Tiba-tiba emas itu terasa seperti bongkahan daging busuk. Semua kekayaan ini, semua tanah yang ia gunakan untuk membantu warga, berasal dari penjarahan dan darah orang-orang yang "dijagal" oleh kakeknya.

"Astaga... Kakek bukan pahlawan. Kakek adalah jagal," desis Bardebok.

Ia menemukan sebuah foto hitam putih di selipan jurnal. Kakeknya berdiri di depan sebuah rumah yang terbakar, memegang parang, dikelilingi pemuda-pemuda lain. Wajah kakeknya tampak begitu haus darah, sangat berbeda dengan senyum ramah di foto-foto yang dipajang di ruang tamu.

"Mas Debok! Ini Darsun datang ke rumah!" teriak Pak RT lagi.

Bardebok tersentak. Darsun? Rival politiknya? Untuk apa dia ke sini?

Bardebok memasukkan map merah itu ke dalam bajunya, lalu mengambil akta kelahiran dan dokumen lain yang diperlukan. Ia keluar dari gudang dengan wajah pucat pasi. Di ruang tamu, Darsun berdiri dengan tangan bersedekap, didampingi dua orang pengawalnya yang berwajah garang.

"Wah, calon Kades kita sudah keluar," sindir Darsun. "Gimana, Debok? Sudah siap mendaftar?"

"Apa maumu, Darsun?" tanya Bardebok dingin.

"Aku cuma mau bilang, jangan merasa terlalu aman. Aku tahu kamu punya rahasia. Tidak ada orang yang sebersih itu di dunia ini," Darsun melangkah mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Bardebok. "Aku tahu soal kakekmu."

Jantung Bardebok seakan berhenti berdetak. Apa dia tahu soal map merah itu?

"Jangan gertak aku," tantang Bardebok, meski suaranya bergetar.

"Aku punya saksi orang tua di desa sebelah yang ingat siapa kakekmu sebenarnya sebelum dia jadi juragan sapi," Darsun menyeringai. "Jadi, kalau kamu mau selamat, batalkan pendaftaranmu sekarang juga."

"Kamu mencoba menjegal saya dengan fitnah?" Bardebok menatap tajam.

"Fitnah? Kita lihat saja nanti," Darsun tertawa kecil. "Pak RT, sebaiknya Anda jangan terlalu memuja orang ini. Darah itu lebih kental daripada air, dan darah yang mengalir di sini... sangat anyir."

Darsun berbalik dan keluar dari rumah. Pak RT tampak bingung, sementara Bardebok merasa dunia di sekelilingnya mulai runtuh.

"Jangan dengarkan dia, Debok. Dia cuma iri," kata Pak RT menenangkan.

"Pak RT, saya harus pergi ke kantor pendaftaran sekarang," kata Bardebok datar.

"Nah, begitu! Ayo, kita kawal sampai sana!"

 

*

 

 

Kantor pendaftaran Kepala Desa Kosob dipenuhi lautan manusia. Mereka bersorak ketika mobil Bardebok sampai. Spanduk-spanduk berisi dukungan membentang di mana-mana. Bagi mereka, Bardebok adalah juru selamat.

"Hidup Pak Bardebok! Hidup calon Kades kita!"

Bardebok berjalan menembus kerumunan dengan langkah robotik. Di dalam hatinya, terjadi perang hebat. Jika ia mendaftar dan menang, ia akan menjadi pemimpin di atas tanah yang kakeknya rebut dengan darah. Setiap kebijakan yang ia ambil akan dibiayai oleh uang haram peninggalan seorang eksekutor partai terlarang.

"Silakan, Mas Bardebok. Ini formulir resminya. Tinggal tanda tangan dan serahkan berkas pendukung," kata petugas pendaftaran dengan hormat.

Pak RT menyodorkan pulpen emas milik Bardebok. "Ayo, Debok. Ini sejarah buat desa kita."

Bardebok menatap formulir itu. Pikirannya melayang kembali ke jurnal di balik bajunya. Ia teringat nama-nama korban yang dicatat kakeknya. Ada satu nama yang menarik perhatiannya tadi: Keluarga Darsun senior.

Wait, pikir Bardebok. Apakah Darsun yang tadi itu adalah cucu dari orang yang kakekku singkirkan?

"Mas? Kenapa melamun?" tanya petugas.

Bardebok mengambil pulpen itu. Tangannya gemetar. Ia mulai menulis namanya. B-a-r-d-e-b-o-k.

Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan, terdengar teriakan. "Jangan biarkan dia memimpin! Dia keturunan pembunuh!"

Suasana menjadi riuh. Polisi segera mengamankan provokator itu, yang ternyata salah satu anak buah Darsun.

"Abaikan saja, Mas. Itu cuma trik murahan Darsun buat menjegal Anda," bisik Pak RT.

Bardebok berhenti menulis. Kalimat "menjegal" itu terngiang-ngiang. Darsun mencoba menjegalnya dengan masa lalu kakeknya. Tapi Darsun tidak tahu seberapa buruk masa lalu itu sebenarnya. Darsun hanya punya rumor, sementara Bardebok memegang bukti tertulis di balik bajunya.

"Pak RT," suara Bardebok sangat rendah.

"Ya, Debok?"

"Siapa nama asli Kakek Brodo sebelum pindah ke desa ini?"

Pak RT tampak berpikir sejenak. "Setahu saya ya Brodo Kumuso. Kenapa tanya begitu?"

Bardebok menoleh ke arah petugas pendaftaran. "Boleh saya lihat arsip kependudukan lama untuk syarat validasi silsilah? Saya ingin memastikan tidak ada kesalahan administrasi."

"Tentu, Mas. Ini ada buku besar kependudukan tahun enam puluhan yang baru saja didigitalisasi sebagian," petugas itu memberikan sebuah tablet.

Bardebok mencari nama kakeknya. Tidak ada. Ia mencari berdasarkan alamat rumah tua mereka. Yang muncul adalah nama: Djagal Harjo.

Darah Bardebok membeku. Djagal Harjo. Di jurnal itu, Djagal Harjo adalah nama samaran operasional kakeknya saat melakukan eksekusi lapangan. Ternyata kakeknya tidak hanya memakai nama itu sebagai sandi, tapi itu adalah identitas aslinya sebelum "dicuci" menjadi Brodo Kumuso yang dermawan.

"Ada masalah, Mas?" tanya petugas.

Bardebok melihat ke arah jendela. Di luar, warga masih bersorak. Mereka mencintai "Bardebok cucu Brodo yang baik hati". Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang menyembah cucu dari orang yang mungkin saja telah menghancurkan kepala kakek-nenek mereka lima puluh tahun yang lalu.

"Saya..." Bardebok meletakkan pulpennya.

"Ayo, tanda tangan, Debok! Cuma tinggal satu coretan!" desak Pak RT.

Bardebok menarik napas panjang. Ia merobek formulir pendaftaran itu di depan semua orang.

"Loh! Mas Debok! Apa-apaan ini?!" Pak RT melompat dari kursinya.

Suasana kantor pendaftaran mendadak hening. Para wartawan lokal segera mengarahkan kamera mereka. Warga di luar yang melihat dari jendela mulai kasak-kusuk.

"Saya menarik diri dari pencalonan ini," ucap Bardebok tegas.

"Tapi kenapa? Kamu sudah didaftarkan warga! Kamu tidak bisa membatalkan begitu saja!" Pak RT berteriak frustrasi.

"Alasannya sangat pribadi," jawab Bardebok sambil menatap mata Pak RT. "Dan saya tidak akan pernah mendaftar lagi. Selamanya."

"Ini pasti gara-gara ancaman Darsun tadi, kan? Jangan takut, Debok! Kami semua ada di belakangmu!"

Bardebok menggeleng. "Bukan karena dijegal Darsun, Pak RT. Ini soal sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jabatan Kades."

"Apa yang lebih besar dari amanat rakyat, Debok?!"

Bardebok tidak menjawab. Ia berjalan keluar melewati kerumunan yang kini menatapnya dengan kekecewaan dan amarah. Beberapa orang mulai mencemoohnya.

"Penakut!"

"Pengecut!"

Ia terus berjalan menuju mobilnya. Di sana, Darsun sudah menunggu sambil bersandar di pintu mobil dengan senyum kemenangan.

"Jadi, kamu menyerah karena gertakanku?" tanya Darsun sombong.

Bardebok berhenti tepat di depan Darsun. Ia merobek satu halaman dari map merah di balik bajunya—halaman yang berisi daftar eksekusi keluarga Darsun—lalu meremasnya dalam kepalan tangan.

"Kamu pikir kamu menang, Darsun?" tanya Bardebok dengan nada yang sangat misterius.

"Tentu saja. Aku berhasil menjegalmu."

Bardebok tersenyum pahit, sebuah senyuman yang membuat Darsun tiba-tiba merasa merinding.

"Kamu tidak menjegal saya, Darsun. Kamu hanya tidak tahu seberapa beruntungnya kamu hari ini," bisik Bardebok.

"Apa maksudmu?"

 

 *

 

 

Mobil Bardebok meluncur membelah jalanan desa yang mulai gelap. Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik. Supir pribadinya, Mang Karsa, yang sudah bekerja sejak zaman Kakek Brodo, hanya diam menatap jalan.

"Mang," panggil Bardebok.

"Iya, Den?"

"Mang Karsa tahu siapa Djagal Harjo?"

Mobil itu mendadak oleng sedikit sebelum Mang Karsa berhasil menyeimbangkannya kembali. Cengkeraman tangan tua itu pada setir tampak memutih.

"Kenapa Den Debok tanya soal itu? Nama itu sudah dikubur dalam-dalam," suara Mang Karsa bergetar.

"Ternyata benar ya, Mang. Semua kemewahan ini... rumah ini, tanah-tanah itu... semuanya hasil jagalan?"

Mang Karsa terdiam cukup lama. Ia memarkirkan mobil di pinggir hutan jati, tempat yang konon menjadi saksi bisu peristiwa kelam masa lalu.

"Den Debok sudah buka brankas itu, ya?" Mang Karsa menoleh. Matanya berkaca-kaca. "Tuan Brodo... atau Tuan Djagal... dia memang orang keras di masa mudanya. Tapi dia melakukan itu semua untuk menjamin Den Debok punya masa depan yang layak. Dia tidak ingin cucunya hidup melarat seperti dia."

"Dengan cara membunuh orang, Mang? Dengan cara mengadu domba pemuda sampai mereka saling bantai?" suara Bardebok meninggi. "Tadi saya hampir saja jadi pemimpin mereka. Bagaimana mungkin saya memimpin orang-orang yang keluarganya dihancurkan oleh kakek saya sendiri?"

"Tapi warga mencintai Den Debok! Den sudah menebus dosa Tuan Brodo dengan semua bantuan itu!"

"Dosa tidak bisa ditebus dengan uang hasil jarahan, Mang! Itu namanya mencuci darah dengan darah!" Bardebok memukul dasbor mobil.

Ia keluar dari mobil, menghirup udara malam yang dingin. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu desa Kosob. Desa yang begitu tenang, namun menyimpan ribuan rahasia di bawah tanahnya.

Tiba-tiba, ponsel Bardebok berdering. Nama "Pak RT Sodik" muncul di layar. Bardebok mengangkatnya.

"Debok! Kamu harus kembali! Warga mengamuk di depan rumahmu! Mereka pikir kamu menarik diri karena disuap oleh Darsun. Darsun sekarang malah dipukuli massa karena dianggap mengancammu!" teriak Pak RT di telepon.

Bardebok memejamkan mata. Ironi ini sungguh luar biasa. Korban (Darsun) sekarang malah disiksa oleh warga yang membela cucu dari si pembantai (Bardebok).

"Biarkan saja, Pak RT. Saya tidak peduli," kata Bardebok datar.

"Kamu gila! Ini bisa jadi kerusuhan antar dusun! Kamu satu-satunya yang bisa menghentikan mereka!"

Bardebok menutup teleponnya. Ia menatap Mang Karsa yang berdiri di samping mobil.

"Mang, apa Mang ingat siapa saja yang kakek habisi di hutan ini?"

Mang Karsa menunduk. "Terlalu banyak, Den. Tapi yang paling saya ingat adalah seorang guru mengaji. Dia tidak bersalah, dia hanya menolak ajakan kakek untuk bergabung dengan Pemuda Rakyat. Kakek sendiri yang mengeksekusinya di bawah pohon jati besar itu."

Bardebok berjalan menuju pohon yang ditunjuk Mang Karsa. Di sana, ia berlutut. Ia merogoh map merah di balik bajunya, mengambil korek api, dan membakar lembar demi lembar jurnal itu.

"Den, apa yang Den lakukan? Itu bukti sejarah!" seru Mang Karsa.

"Ini bukan sejarah, Mang. Ini kutukan. Dan saya tidak akan membiarkan kutukan ini berlanjut," kata Bardebok sambil menatap api yang melalap kertas-kertas tua itu.

Namun, saat api hampir menghabiskan lembar terakhir, Bardebok melihat sesuatu yang belum sempat ia baca di bagian paling belakang map. Sebuah surat yang ditulis dengan tinta yang berbeda, tampak lebih baru.

Untuk cucuku, Bardebok.

Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah menemukan siapa aku sebenarnya. Kamu mungkin membenciku. Tapi ketahuilah, jabatan Kepala Desa yang akan kamu pegang nanti bukan sekadar jabatan. Itu adalah benteng. Aku telah menyusun skenario agar hanya keturunanku yang bisa memimpin desa ini. Kenapa? Karena di bawah balai desa itu, terkubur sesuatu yang tidak boleh ditemukan oleh siapapun. Jika orang lain yang memimpin, mereka akan menggali, dan seluruh rahasia kita akan terbongkar.

Bardebok tertegun. Api hampir menyambar jarinya.

"Mang! Di bawah balai desa ada apa?" tanya Bardebok panik.

Mang Karsa wajahnya mendadak pucat pasi, lebih pucat dari sebelumnya. "Tuan Brodo tidak pernah cerita soal itu pada Den?"

"Katakan sekarang, Mang!"

"Itu... itu adalah lubang pembuangan terakhir, Den. Bukan cuma satu atau dua orang. Tapi puluhan. Kakekmu membangun balai desa di atasnya agar tidak ada yang berani membongkar tanah itu. Itu adalah fondasi kekuasaan keluarga kita."

Bardebok menjatuhkan surat itu ke api. Ia merasa mual yang luar biasa. Balai desa, tempat warga bermusyawarah, tempat anak-anak bermain, ternyata adalah sebuah kuburan massal yang sengaja ditutupi oleh kemegahan bangunan.

"Mas Debok! Mas!" sebuah suara teriakan muncul dari arah semak-semak.

Ternyata itu adalah Darsun. Wajahnya babak belur, bajunya robek. Ia sepertinya berhasil melarikan diri dari amukan massa dan mengejar Bardebok.

"Darsun? Bagaimana kamu tahu aku di sini?"

Darsun terengah-engah, memegang lututnya. "Aku tahu... aku tahu soal kakekmu lebih dari yang kamu kira, Debok. Aku punya dokumen yang lebih lengkap dari yang kamu pegang."

Bardebok menatap Darsun dengan dingin. "Apa maumu sekarang? Uang? Kamu mau memeras saya?"

Darsun tertawa sinis, meski mulutnya berdarah. "Uangmu tidak akan bisa mengembalikan nyawa kakekku. Aku ingin kamu tetap mencalonkan diri. Aku ingin kamu menang."

Bardebok mengerutkan kening. "Apa? Tadi kamu melarangku."

"Itu sebelum aku tahu rencana pemerintah kabupaten," kata Darsun sambil mendekat. "Bulan depan, mereka akan merenovasi total balai desa. Mereka akan menggali fondasinya untuk dibuat basement. Kamu tahu apa artinya itu, kan?"

Bardebok terdiam. Jantungnya berdegup kencang.

"Hanya seorang Kepala Desa yang punya wewenang untuk mengubah rencana renovasi itu atau menghentikannya," lanjut Darsun dengan mata berkilat. "Jika kamu tidak jadi Kades, rahasia kakekmu akan terbongkar. Dunia akan tahu siapa Brodo Kumuso sebenarnya. Dan kamu... kamu akan kehilangan semuanya. Hartamu akan disita, namamu akan busuk."

Bardebok menatap Darsun tak percaya. "Lalu kenapa kamu ingin aku tetap menang? Bukankah kamu membenci kakekku?"

Darsun menyeringai lebar, menampakkan giginya yang merah karena darah.

"Karena kalau kamu jadi Kades, aku akan menjadi orang yang memegang lehermu selamanya. Kamu akan jadi bonekaku, atau aku sendiri yang akan membawa buldoser itu ke balai desa."

Bardebok menatap api yang kini sudah padam, menyisakan abu dari jurnal kakeknya. Ia melihat ke arah Mang Karsa, lalu kembali ke Darsun.

"Jadi ini pilihan saya?" tanya Bardebok pelan. "Menjadi pengkhianat sejarah untuk menutupi jejak sang jagal, atau hancur bersama rahasia itu?"

Darsun meludah ke tanah. "Pilihannya sederhana, Debok. Jadilah pemimpin, atau jadilah sampah."

Bardebok terdiam cukup lama. Angin malam berdesir di antara pohon jati, seolah membawa suara bisikan ribuan nyawa yang terkubur di bawah sana.

"Mang Karsa," panggil Bardebok.

"Iya, Den?"

"Ambilkan bensin di bagasi."

Darsun mengernyit. "Buat apa bensin? Kamu mau membakar aku?"

Bardebok tidak menjawab. Ia mengambil botol bensin dari tangan Mang Karsa, lalu menyiramkannya ke seluruh map merah yang sudah jadi abu, juga ke arah beberapa dokumen sisa yang belum terbakar sempurna.

"Darsun," kata Bardebok sambil menyulut korek api terakhir. "Kamu belum tahu satu hal tentang kakekku."

"Apa?"

"Dia tidak hanya suka membunuh. Dia juga sangat benci meninggalkan jejak yang bisa digunakan orang lain untuk mengontrolnya."

Bardebok melemparkan korek api itu ke tanah yang basah oleh bensin. Api berkobar tinggi sesaat.

"Aku tidak akan jadi Kepala Desa," kata Bardebok mantap.

"Kamu gila! Kamu akan hancur!" teriak Darsun.

"Biarkan saja. Biarkan mereka menggali balai desa itu. Biarkan dunia tahu. Aku lebih baik jatuh miskin dan dihina daripada hidup sebagai boneka seorang pemeras yang menggunakan darah kakeknya sendiri sebagai umpan."

Bardebok berbalik menuju mobil.

"Debok! Kamu tidak bisa melakukan ini! Aku akan menghancurkanmu!" Darsun berteriak histeris di tengah kegelapan hutan.

Bardebok berhenti sebentar sebelum masuk ke mobil. Ia menoleh ke arah Darsun.

"Satu lagi, Darsun. Kakekku memang seorang jagal. Tapi dia gagal dalam satu hal."

"Apa itu?"

 

*

 

 

Pagi itu, Desa Kosob gempar. Bukan karena Bardebok yang membatalkan pendaftarannya, tapi karena sebuah pengakuan tertulis yang tersebar di setiap pintu rumah warga. Pengakuan itu lengkap dengan salinan dokumen asli yang ternyata sudah difotokopi oleh Bardebok sebelum ia membakar jurnalnya.

Bardebok berdiri di balkon rumahnya, melihat warga yang berkerumun di depan gerbang. Kali ini mereka tidak membawa spanduk dukungan. Mereka membawa batu. Mereka membawa kemarahan.

"Keluar kamu, cucu komunis!"

"Kembalikan tanah kami! Dasar perampok!"

Polisi sudah berjaga di depan rumah untuk mencegah massa masuk. Pak RT Sodik berdiri di tengah kerumunan dengan wajah yang hancur. Ia merasa telah dikhianati oleh orang yang paling ia percayai.

"Debok! Kenapa kamu lakukan ini secara terbuka?!" teriak Pak RT dari bawah.

Bardebok melangkah ke tepi balkon. Suaranya lantang, dibantu oleh pengeras suara yang biasa ia gunakan untuk acara bakti sosial.

"Warga Kosob yang saya cintai! Semua yang kalian baca itu benar! Saya berdiri di sini bukan sebagai calon pemimpin kalian, tapi sebagai terdakwa!"

Suasana sedikit mereda, tapi ketegangan tetap terasa.

"Semua harta yang saya miliki, rumah ini, tanah-tanah yang saya pinjamkan kepada kalian, semuanya berasal dari tangan berdarah Djagal Harjo alias Brodo Kumuso! Saya tidak layak memimpin kalian. Dan saya tidak ingin membiarkan kebohongan ini terkubur selamanya di bawah kantor desa kita!"

Massa mulai berbisik-bisik.

"Mulai hari ini, saya menyerahkan seluruh aset keluarga Brodo Kumuso kepada negara untuk dikelola bagi kepentingan ahli waris para korban yang namanya tercatat dalam daftar tersebut! Termasuk tanah di bawah Balai Desa!"

Darsun, yang berada di tengah kerumunan, tampak pucat. Rencananya untuk memeras Bardebok gagal total. Dengan Bardebok yang mengaku sendiri secara publik, kartu as Darsun tidak lagi berharga. Ia justru terancam karena keluarganya juga sempat menikmati sisa-sisa "damai" dari kakek Bardebok.

"Dan untuk kamu, Darsun!" Bardebok menunjuk ke arah rivalnya itu. "Silakan ambil kembali apa yang kamu klaim sebagai milikmu melalui jalur hukum. Saya tidak akan menghalangi."

Bardebok masuk kembali ke dalam rumah. Ia melihat Mang Karsa sedang mengemasi tas kecil.

"Den, kita mau ke mana?" tanya Mang Karsa lirih.

"Kita ke kantor polisi, Mang. Saya harus mempertanggungjawabkan semua ini. Meskipun saya tidak melakukannya, harta ini adalah hasil kejahatan. Saya harus menyerahkan diri."

"Tapi Den... Den tidak bersalah."

"Diam dan menikmati hasil jarahan juga sebuah kesalahan, Mang."

Bardebok mengambil sebuah foto kecil dari meja kerjanya. Foto dia saat masih kecil, digendong oleh Kakek Brodo. Ia merobek foto itu menjadi dua, memisahkan dirinya dari sosok sang kakek.

Ia berjalan menuju pintu depan, siap menghadapi amukan massa atau proses hukum yang panjang. Namun sebelum ia membuka pintu, telepon di ruang tamu berdering sekali lagi. Kali ini dari nomor yang tidak dikenal.

Bardebok mengangkatnya.

"Halo?"

"Bardebok," suara di seberang sana terdengar tua, serak, dan sangat dingin. "Kamu pikir dengan mengaku semuanya, kamu sudah selesai?"

Bardebok mengerutkan kening. "Siapa ini?"

"Kakekmu tidak bekerja sendirian di tahun enam puluh lima. Masih banyak 'Djagal' lain yang masih hidup dan sekarang memegang posisi penting di pemerintahan pusat. Dan mereka tidak senang kamu membuka kotak pandora ini."

Bardebok merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

"Siapa kalian?"

"Kami adalah orang-orang yang memastikan kakekmu tetap aman selama lima puluh tahun. Sekarang kamu telah menghancurkan perlindungan itu. Jangan harap kamu bisa sampai ke kantor polisi dengan selamat."

Bardebok terdiam. Ia melihat ke luar jendela. Sebuah mobil hitam dengan kaca gelap baru saja berhenti di belakang kerumunan warga. Beberapa orang berpakaian rapi namun berwajah dingin turun dari mobil itu. Mereka tidak membawa batu. Mereka membawa sesuatu yang disembunyikan di balik jas mereka.

Bardebok menatap Mang Karsa, lalu tersenyum pahit. Ia menyadari bahwa perjalanannya baru saja dimulai—atau mungkin baru saja akan berakhir.

"Mang, sepertinya kita tidak akan ke kantor polisi hari ini," bisik Bardebok.

"Kenapa, Den?"

Bardebok memegang gagang pintu, lalu menoleh ke arah telepon yang masih tersambung.

"Kakek saya mungkin gagal mendidik saya jadi penjahat, tapi dia berhasil mewariskan satu hal: keberanian untuk mati."


Ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar, menghadapi massa yang marah dan para penembak gelap yang menunggu di balik keramaian.

"Siapa di antara kalian yang ingin menjagal saya lebih dulu?"

 

Spirov Lengking, 62029091093330