Sugiarto B. Darmawan adalah seorang penyair dan penulis puisi Indonesia yang dikenal lewat karya-karya bernuansa pedesaan, ekologis, dan penuh kerinduan terhadap lanskap budaya Jawa. Ia berasal dari Tegalmade, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dalam salah satu catatan publikasi disebutkan bahwa beliau sehari-hari bekerja sebagai petani tanaman hias sambil menulis puisi.
Beliau termasuk penulis senior di Sukoharjo.
Karya-karyanya dalam bentuk puisi, esai dan bentuk tulisan lain tersebar di berbagai
koran (media cetak) sejak tahun 90-an. Selain petani, beliau juga punggawa desa.
Karya-karya puisinya banyak dipublikasikan
oleh Borobudur Writers & Cultural Festival, terutama dalam rubrik
“Sajak-sajak”. Tema yang paling menonjol dalam puisinya antara lain:
·
kerusakan
lingkungan,
·
hilangnya
kehidupan desa tradisional,
·
kerinduan
terhadap alam Jawa,
·
relasi
manusia dan alam,
·
kesunyian
dan spiritualitas batin.
Beberapa puisi terkenalnya antara lain:
Bila Engkau Bangun Pagi Ini
Ini Tentang Kerinduan
Bersama Gerimis Menyeberangi Kesunyian
Dua Kenangan dari Timor
Sebuah Pulau Nun Jauh di Sana
Ciri khas puisinya adalah penggunaan
detail-detail lokal yang sangat kuat: nama burung, tanaman, alat pertanian,
suasana desa Jawa, hingga istilah tradisional seperti “senthong”, “luku”,
“garu”, dan “labuhan”. Karena itu puisinya terasa sangat etnografis sekaligus
puitis.
Menariknya, karya-karyanya juga sudah menjadi
objek penelitian akademik. Sebuah artikel ilmiah berjudul Chirps and Silence: A Study of Ecocriticism in Poetry’s by Sugiarto B.
Darmawan menilai bahwa puisi-puisinya mengandung nilai “ekokritik sastra”,
yakni kesadaran menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Dalam penelitian itu disebutkan bahwa
puisinya:
·
menggambarkan
flora-fauna dengan penuh penghargaan,
·
menunjukkan
ketergantungan manusia terhadap alam,
·
serta
mengajak pembaca merenungkan kerusakan lingkungan modern.
Secara gaya, puisi-puisi Sugiarto B. Darmawan
sering dibandingkan dengan tradisi sastra pedesaan Jawa yang kontemplatif:
tenang, lirih, tetapi kuat dalam membangun suasana. Banyak puisinya terasa
seperti dokumentasi emosional tentang desa-desa yang perlahan hilang ditelan
modernisasi.
Biografi Sugiarto B. Darmawan
Sugiarto B. Darmawan adalah penyair Indonesia
kontemporer yang berasal dari Tegalmade, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa
Tengah. Ia dikenal sebagai penyair yang mengangkat kehidupan desa, alam, dan
kegelisahan ekologis melalui puisi-puisinya yang lirih, reflektif, dan penuh
detail budaya Jawa.
Berbeda dengan banyak penyair modern yang
tumbuh dari lingkungan akademik atau kota besar, Sugiarto B. Darmawan hidup
dekat dengan dunia agraris. Dalam catatan yang dimuat oleh Borobudur Writers
& Cultural Festival disebutkan bahwa ia sehari-hari bekerja sebagai petani
tanaman hias sambil menulis puisi. Kehidupan itu memberi warna kuat pada karya-karyanya:
sawah, gerimis, burung-burung desa, rumpun bambu, kerbau, bukit kapur, hingga
kesunyian kampung menjadi elemen yang terus hadir dalam puisinya.
Latar Kehidupan dan Dunia Kepenyairan
Sugiarto tumbuh dalam lingkungan pedesaan
Jawa yang masih lekat dengan tradisi agraris dan harmoni alam. Pengalaman hidup
di desa membentuk sensitivitas puisinya terhadap perubahan lingkungan dan
hilangnya kehidupan tradisional akibat modernisasi.
Puisi-puisinya sering menghadirkan nostalgia
tentang:
suara
burung di pagi hari,
hutan-hutan
kecil yang hilang,
ritme
hidup petani,
musim
hujan dan kemarau,
serta
kesunyian desa-desa kecil di Jawa.
Dalam salah satu puisinya, ia menyebut banyak
wilayah di Wonogiri seperti Purwantoro, Wuryantoro, Eromoko, hingga Giritontro
sebagai bagian dari pengembaraan batin dan pengamatannya terhadap lanskap Jawa
yang mulai berubah.
Ciri Khas Puisi
Puisi-puisi Sugiarto B. Darmawan memiliki
beberapa ciri utama:
·
kaya
citraan alam dan pedesaan,
·
menggunakan
kosakata lokal Jawa,
·
bernuansa
melankolis dan kontemplatif,
·
dekat
dengan spiritualitas sunyi,
·
kuat
dalam tema ekologi dan kehilangan.
Ia sering memasukkan nama-nama flora dan
fauna lokal seperti:
·
jalak
suren,
·
gelatik
Jawa,
·
perkutut,
·
bangau,
·
elang
Jawa,
·
hingga
tumbuhan seperti randu, bambu, dan lamtoro.
Karena itu, puisinya terasa seperti
dokumentasi emosional tentang desa Jawa yang perlahan menghilang.
Tema Ekologi dan Kritik Lingkungan
Karya-karya Sugiarto B. Darmawan banyak
dibaca sebagai puisi ekokritik, yaitu sastra yang membahas hubungan manusia
dengan alam.
Sebuah penelitian ilmiah berjudul Chirps and Silence: A Study of Ecocriticism
in Poetry’s by Sugiarto B. Darmawan menilai bahwa puisinya mengandung
kesadaran ekologis yang kuat. Penelitian itu menyebut bahwa beliau:
·
menggambarkan
alam dengan penuh kasih,
·
menunjukkan
hubungan saling bergantung antara manusia dan alam, serta menyuarakan
kegelisahan atas kerusakan lingkungan modern.
Dalam puisinya Bila Engkau Bangun Pagi Ini,
misalnya, ia menggambarkan hilangnya suara burung-burung desa sebagai simbol
rusaknya keseimbangan alam dan berubahnya kehidupan kampung.
Publikasi dan Karya
Puisi-puisinya banyak dipublikasikan melalui
Borobudur Writers & Cultural Festival, terutama dalam rubrik “Sajak-sajak”.
Beberapa karya yang dikenal antara lain:
·
Bila
Engkau Bangun Pagi Ini
·
Bersama
Gerimis Menyeberangi Kesunyian
·
Dua
Kenangan dari Timor
·
Ini
Tentang Kerinduan
·
Sebuah
Pulau Nun Jauh di Sana
·
Posisi
dalam Sastra Indonesia
Sugiarto B. Darmawan dapat ditempatkan dalam
tradisi penyair pedesaan dan ekologis Indonesia. Nuansa puisinya mengingatkan
pada kecenderungan liris-kontemplatif dalam sastra Jawa modern: sederhana,
tenang, tetapi menyimpan kegelisahan mendalam.
Ia bukan penyair yang menonjol lewat
eksperimen bahasa yang rumit, melainkan lewat kekuatan suasana, kesunyian, dan
kedekatan emosional dengan alam.
Dalam banyak puisinya, desa bukan sekadar
latar, melainkan ruang batin dan sumber nilai kehidupan. Karena itu
karya-karyanya terasa dekat dengan pembaca yang merindukan kehidupan yang lebih
alami, hening, dan manusiawi.
Analisis Gaya Puisi Sugiarto B. Darmawan
Sugiarto B. Darmawan merupakan penyair yang
membangun kekuatan puisinya bukan melalui kemewahan diksi yang rumit, melainkan
lewat kesunyian, detail alam, dan suasana batin yang perlahan meresap.
Puisi-puisinya terasa tenang di permukaan, tetapi menyimpan kegelisahan yang
dalam tentang manusia, alam, dan hilangnya dunia pedesaan Jawa.
Secara umum, gaya kepenyairannya dapat dianalisis
melalui beberapa unsur berikut.
1. Lirisisme Pedesaan
Ciri paling kuat dari puisi Sugiarto adalah
nuansa liris pedesaan. Desa dalam puisinya bukan sekadar tempat, tetapi ruang
spiritual dan ruang ingatan.
Ia menghadirkan:
jalan desa,
pematang sawah,
suara burung,
gerimis,
bambu,
ladang,
rumah-rumah sunyi,
dan pagi hari di kampung Jawa.
Semua itu ditulis dengan nada yang lembut dan
reflektif.
Contohnya tampak dalam puisi Bila Engkau
Bangun Pagi Ini, ketika hilangnya suara burung menjadi simbol hilangnya
keseimbangan alam dan kehidupan lama desa Jawa. (borobudurwriters.id)
Gaya seperti ini membuat puisinya terasa:
intim,
hening,
dan sangat visual.
Pembaca seolah tidak sedang membaca puisi,
tetapi sedang berjalan sendiri di desa yang berkabut pagi.
2. Ekologi sebagai Kesadaran Batin
Sugiarto bukan sekadar “penyair alam”. Alam
dalam puisinya bukan dekorasi, melainkan bagian dari nasib manusia.
Burung yang hilang, hutan yang sunyi, atau
sawah yang berubah bukan hanya gambaran fisik, tetapi simbol kerusakan hubungan
manusia dengan kehidupan.
Karena itu puisinya sering dibaca sebagai
puisi ekokritik. Sebuah penelitian akademik bahkan secara khusus mengkaji
dimensi ekologi dalam puisinya melalui pendekatan ecocriticism. (jolcc.org)
Keistimewaannya:
·
ia tidak
berkhotbah,
·
tidak
marah secara eksplisit,
·
tidak
menulis slogan lingkungan.
Ia memilih kesedihan yang sunyi. Justru lewat
kesunyian itulah kritik ekologinya terasa kuat.
3. Penggunaan Detail Lokal Jawa
Sugiarto sangat kuat dalam menghadirkan
detail lokal.
Ia sering menyebut:
·
nama
burung,
·
tanaman,
·
daerah
kecil,
·
alat
pertanian,
·
hingga
istilah rumah tradisional Jawa.
Misalnya:
·
gelatik,
·
perkutut,
·
randu,
·
lamtoro,
·
senthong,
·
luku,
·
garu,
·
dan
nama-nama kawasan Wonogiri.
Teknik ini membuat puisinya memiliki:
·
kekayaan
etnografis,
·
identitas
lokal yang kuat,
·
sekaligus
rasa autentik.
Pembaca tidak merasa sedang membaca “alam”
secara umum, tetapi benar-benar membaca lanskap Jawa yang hidup.
4. Kesunyian sebagai Atmosfer Utama
Salah satu kekuatan terbesar Sugiarto adalah
kemampuannya membangun suasana sunyi.
Puisinya jarang meledak-ledak secara
emosional. Ia lebih memilih:
·
jeda,
·
kehampaan,
·
gerimis,
·
kabut,
·
sore,
·
atau
pagi yang terlalu tenang.
Kesunyian dalam puisinya bukan kelemahan,
tetapi cara memahami hidup.
Karena itu banyak puisinya terasa
kontemplatif dan meditatif.
Kadang pembaca merasa:
puisinya seperti doa yang diucapkan
pelan-pelan.
5. Melankoli dan Nostalgia
Banyak puisi Sugiarto bergerak di wilayah
kehilangan:
·
kehilangan
desa lama,
·
kehilangan
alam,
·
kehilangan
suara burung,
·
bahkan
kehilangan makna hidup modern.
Namun nostalgia dalam puisinya tidak
sentimental berlebihan. Ia tetap sederhana dan terukur.
Ia tidak berkata:
“Aku sedih karena dunia berubah.”
Ia cukup menunjukkan:
burung yang tak lagi berkicau,
jalan yang sepi,
atau ladang yang kehilangan musim.
Dari situ pembaca merasakan sendiri dukanya.
6. Bahasa yang Sederhana tetapi Puitis
Secara diksi, Sugiarto tidak memakai bahasa
yang terlalu eksperimental.
Kalimat-kalimatnya relatif:
·
mudah
dipahami,
·
pendek,
·
dan
bersih.
Namun kekuatan puitiknya muncul dari:
·
ritme,
·
pengulangan,
·
suasana,
·
dan
citraan visual.
Inilah sebabnya puisinya terasa dekat dengan
pembaca awam sekaligus tetap memiliki kedalaman sastra.
7. Kedekatan dengan Tradisi Jawa
Walaupun menulis dalam bahasa Indonesia
modern, ruh Jawa terasa sangat kuat.
Bukan hanya lewat kosakata, tetapi lewat cara
memandang hidup:
·
nrima,
·
sunyi,
·
selaras
dengan alam,
·
dan
reflektif.
Ada semacam falsafah Jawa yang diam-diam
hidup dalam puisinya:
bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari
semesta.
Karena itu puisinya jarang agresif atau
konfrontatif. Kritiknya disampaikan lewat lirih dan kehilangan.
Kesimpulan
Gaya puisi Sugiarto B. Darmawan dapat
dirangkum sebagai:
·
liris
pedesaan,
·
ekologis,
·
kontemplatif,
·
kaya
detail lokal Jawa,
·
dan
penuh kesunyian melankolis.
Kekuatan terbesarnya bukan pada ledakan emosi
atau permainan bahasa yang rumit, melainkan pada kemampuannya menghidupkan
kembali desa Jawa sebagai ruang batin yang perlahan hilang dari kehidupan
modern.
Puisinya seperti:
suara burung terakhir di pagi hari,
gerimis di pematang sawah,
atau doa pelan dari kampung yang mulai
dilupakan manusia modern.
Kajian Sastra atas Karya-Karya Sugiarto B. Darmawan
Pendahuluan
Puisi-puisi Sugiarto B. Darmawan menempati
posisi menarik dalam sastra Indonesia kontemporer, terutama dalam arus sastra
ekologis dan sastra pedesaan. Karya-karyanya menghadirkan lanskap desa Jawa
bukan hanya sebagai latar estetis, melainkan sebagai ruang batin yang sedang
mengalami kerusakan, kehilangan, dan keterasingan akibat modernisasi.
Melalui gaya yang lirih, sederhana, dan penuh
kesunyian, Sugiarto membangun puisi yang tidak berteriak, tetapi perlahan
menghantam kesadaran pembaca. Alam dalam puisinya bukan objek dekoratif,
melainkan bagian integral dari kehidupan manusia.
Kajian ini akan membahas:
·
tema
utama,
·
struktur
estetik,
·
simbolisme,
·
pendekatan
ekokritik,
·
dimensi
budaya Jawa,
·
serta
posisi kepenyairannya dalam sastra Indonesia.
1. Tema Sentral: Kehilangan Dunia Pedesaan
Tema terbesar dalam puisi-puisi Sugiarto
adalah hilangnya dunia pedesaan tradisional.
Dalam puisi seperti:
Bila Engkau Bangun Pagi Ini,
Ini Tentang Kerinduan,
dan Karst,
desa hadir sebagai ruang yang perlahan:
rusak,
sunyi,
kehilangan fauna,
dan tercerabut dari harmoni lama.
Namun Sugiarto tidak menggambarkan kehilangan
itu secara eksplosif. Ia menggunakan:
detail kecil,
suasana pagi,
burung yang hilang,
gerimis,
serta benda-benda tradisional.
Dengan teknik itu, kehilangan terasa lebih
halus tetapi justru lebih menyakitkan.
Misalnya dalam Bila Engkau Bangun Pagi Ini,
hilangnya suara burung bukan hanya kehilangan biologis, tetapi simbol:
punahnya memori,
rusaknya keseimbangan,
dan matinya ruang hidup manusia tradisional.
(borobudurwriters.id)
2. Pendekatan Ekokritik
Secara akademik, karya-karya Sugiarto sangat
relevan dibaca melalui pendekatan ekokritik (ecocriticism).
Ekokritik adalah pendekatan sastra yang
mempelajari hubungan:
manusia,
alam,
lingkungan,
dan krisis ekologis.
Dalam puisi-puisi Sugiarto, alam bukan latar pasif,
melainkan organisme hidup yang memiliki nilai spiritual dan emosional.
Burung, kabut, pohon, bukit karst, hujan,
sawah, dan bambu hadir sebagai “subjek kehidupan”.
Penelitian berjudul Chirps and Silence: A
Study of Ecocriticism in Poetry’s by Sugiarto B. Darmawan menyebut bahwa
puisinya menunjukkan:
relasi harmonis manusia dan alam,
kesadaran ekologis,
serta kritik terhadap kerusakan lingkungan
modern. (jolcc.org)
Yang menarik:
Sugiarto tidak menggunakan slogan lingkungan.
Ia tidak berkata:
“Selamatkan alam!”
Sebaliknya, ia menunjukkan:
burung yang tak lagi terdengar,
desa yang sepi,
dan lanskap yang kehilangan nyawa.
Pendekatan semacam ini membuat puisinya lebih
puitis dan tidak propagandistik.
3. Struktur Estetik: Kesunyian sebagai Teknik Puitik
Salah satu kekuatan terbesar Sugiarto adalah
penggunaan kesunyian sebagai struktur estetika.
Puisinya:
lambat,
lirih,
minim ledakan emosi,
dan penuh jeda kontemplatif.
Kesunyian bukan sekadar suasana, tetapi cara
berpikir.
Ia membangun efek emosional melalui:
ruang kosong,
repetisi lembut,
citraan kabut,
gerimis,
dan pagi hari.
Teknik ini membuat pembaca tidak “diserang”
emosi secara langsung, tetapi diajak masuk perlahan ke ruang batin puisi.
Dalam teori sastra modern, teknik seperti ini
dekat dengan:
puisi kontemplatif,
minimalisme lirik,
dan estetika meditatif.
4. Simbolisme dalam Puisi
Puisi-puisi Sugiarto kaya simbol alam.
Burung
Burung adalah simbol paling dominan.
Burung dalam puisinya dapat dibaca sebagai:
kebebasan,
keseimbangan alam,
ingatan masa kecil,
dan suara kehidupan desa.
Ketika burung hilang, sesungguhnya yang
hilang adalah:
harmoni,
kesederhanaan hidup,
dan kemanusiaan itu sendiri.
Gerimis dan Kabut
Gerimis sering muncul sebagai simbol:
kesedihan,
refleksi,
dan perjalanan batin.
Sedangkan kabut melambangkan:
ketidakjelasan zaman,
keterasingan,
atau jarak antara manusia dan alam.
Rumah Tradisional Jawa
Dalam puisi Ini Tentang Kerinduan, unsur
seperti:
senthong,
gandok,
sumur,
luku,
dan garu
bukan hanya benda fisik, tetapi simbol:
akar budaya,
identitas,
dan kehidupan agraris yang mulai hilang.
5. Dimensi Budaya Jawa
Walaupun menulis dalam bahasa Indonesia,
dunia batin Jawa sangat terasa dalam puisinya.
Nilai-nilai Jawa yang tampak antara lain:
keselarasan dengan alam,
ketenangan,
nrima,
kesadaran spiritual,
dan penghormatan terhadap kehidupan
sederhana.
Sugiarto tidak menampilkan Jawa secara
folkloris atau eksotis.
Ia menghadirkan Jawa sebagai:
pengalaman hidup,
cara memandang dunia,
dan etika batin.
Karena itu puisinya terasa sangat “Jawa”
walaupun tidak selalu menggunakan bahasa Jawa.
6. Gaya Bahasa dan Diksi
Diksi Sugiarto relatif sederhana.
Ia jarang menggunakan:
metafora yang rumit,
permainan bunyi berlebihan,
atau eksperimentasi avant-garde.
Namun kekuatan bahasanya muncul dari:
ketepatan detail,
atmosfer,
ritme lirih,
dan citraan visual.
Puisinya mudah dibaca, tetapi meninggalkan
gema emosional yang panjang.
Teknik seperti ini mengingatkan pada
kecenderungan puisi:
Sapardi Djoko Damono dalam kesederhanaan
liris,
tetapi lebih agraris dan ekologis,
serta lebih dekat dengan lanskap pedesaan
Jawa.
7. Posisi dalam Sastra Indonesia
Sugiarto B. Darmawan dapat ditempatkan dalam
tradisi:
sastra ekologis Indonesia,
puisi pedesaan,
dan puisi kontemplatif modern.
Ia berbeda dari penyair urban yang:
sibuk dengan kegelisahan kota,
politik identitas,
atau eksperimentasi bahasa.
Kekuatan Sugiarto justru terletak pada:
kesunyian,
kesederhanaan,
dan kesetiaannya pada lanskap kecil desa
Jawa.
Dalam konteks sastra Indonesia modern,
karya-karyanya penting karena:
menjadi arsip emosional desa,
merekam perubahan ekologis,
dan menjaga memori budaya agraris yang mulai
pudar.
Kesimpulan
Puisi-puisi Sugiarto B. Darmawan merupakan
perpaduan antara:
lirisisme pedesaan,
kesadaran ekologis,
spiritualitas Jawa,
dan estetika kesunyian.
Karya-karyanya tidak tampil meledak-ledak,
tetapi justru kuat karena kelirihan dan keteduhannya.
Melalui:
burung,
gerimis,
bukit karst,
sawah,
dan rumah-rumah desa,
Sugiarto sebenarnya sedang berbicara tentang:
manusia modern yang kehilangan akar,
hilangnya harmoni dengan alam,
dan kerinduan pada kehidupan yang lebih
manusiawi.
Karena itu puisinya bukan hanya dokumentasi
alam atau nostalgia desa, melainkan juga kritik halus terhadap peradaban modern
yang perlahan menjauh dari keseimbangan hidup.
Tolong dikasih contoh satu puisi karya
Sugiarto B Darmawan
Berikut salah satu puisi terbaik karya
Sugiarto B. Darmawan yang paling sering dibicarakan karena kekuatan ekologis
dan suasana pedesaannya:
BILA ENGKAU BANGUN PAGI INI
karya Sugiarto B. Darmawan
“Bila engkau bangun pagi ini kawan
Jangan lagi berharap akan disambut riuh
ocehan kutilang
Seperti masa kecilmu
Dimana orkestra nyanyian burung bersahut
sahutan
Dari pucuk pohon randu kepodang dengan warna
bulu kuning keemasan
Perkutut yang baru bangun malas malasan
mengucapkan salam
Jalak suren mengintip jangkrik di pematang
sawah
Prenjak bermain lompat lompatan dari dahan ke
dahan
Gelatik Jawa yang menawan siap siap terbang
ke hamparan sawah…”
Puisi ini kemudian bergerak menjadi ratapan
ekologis tentang:
hilangnya burung-burung desa,
rusaknya sawah,
hilangnya rumpun bambu,
dan musnahnya keseimbangan alam Jawa.
Bagian penutupnya sangat kuat:
“Oooo..kawan
Bila engkau bangun pagi ini
Semoga yang tersisa masih bisa memberi arti”
Puisi ini ditulis di Tegalmade, Oktober 2022,
dan dipublikasikan oleh Borobudur Writers & Cultural Festival.
Berikut versi lengkap puisi Bila Engkau
Bangun Pagi Ini karya Sugiarto B. Darmawan yang dipublikasikan oleh Borobudur
Writers & Cultural Festival:
BILA ENGKAU BANGUN PAGI INI
karya Sugiarto B. Darmawan
Bila engkau bangun pagi ini kawan
Jangan lagi berharap akan disambut riuh
ocehan kutilang
Seperti masa kecilmu
Dimana orkestra nyanyian burung bersahut
sahutan
Dari pucuk pohon randu kepodang dengan warna
bulu kuning keemasan
Perkutut yang baru bangun malas malasan
mengucapkan salam
Jalak suren mengintip jangkrik di pematang
sawah
Prenjak bermain lompat lompatan dari dahan ke
dahan
Gelatik Jawa yang menawan siap siap terbang
ke hamparan sawah
Riuh rendah ocehan manyar dari sarangnya yang
bergelantungan di pelepah kelapa
Gagak yang nakal tak mau ketinggalan
Memamerkan legam bulunya di langit yang
jembar
Sedang si kuntul yang berbulu putih.. malu
malu menari dengan sayapnya yang pipih
Jalak putih dengan gemulainya mendarat di
punggung kerbau
Acuh pada si gembala yang malas malasan
Bangau tontong yang sombong
Mematuk katak untuk mengisi perutnya yang
kosong
Pasukan terik mbung yang ribuan
Tak akan kau jumpai lagi ketika hujan pertama
datang
Tanda memasuki musim labuhan
Sri gunting juga tak akan lagi mengoceh
Dari reranting dengan suaranya yang bening
Di sawah trinil lincah mencari cacing
Di siang yang sunyi pelatuk bermain musik
Melubangi dahan yang mulai lapuk
Thok… thok..thookkk….thok…thokkk
Disahut malas malasan alunan merdu derkuku
dari rumpun bambu
Dari kejauhan kedasih melantunkan irama
kesedihan
Disambut suara serak tengkek buto yang dengan
elegan menyambar belalang di pucuk lamtoro
Di angkasa elang Jawa mengepakkan sayapnya
Mencari mangsa
Membuat si gemak ketakutan bersembunyi di
semak semak
Oo .kawan
Tengoklah sekelilingmu
Rumpun rumpun bambu pun telah tiada
Ular sawa, bandotan , macan, tali picis, dumung
sapi dumung kebo, welang weling
Telah kehilangan rumahnya
Di sawah..bibis.. keong..kowangan… tinggal
cerita
Ikan kutuk, sili, bogerang, tageh, cuma bisa
kau ingat namanya
Di selokan wader cethul sekarat menghirup
limbah
Belut di sawah terbakar kerongkongannya kena
pestisida
Dari rerimbun semak
Serangga serangga mengatupkan matanya
Tak tahan menanggung derita
Ooo.. kawan
Di pojok kebun pekarangan rumahmu
Mungkin tak pernah kau tahu
Di situ pernah berdiri kokoh kandang kerbau
kakekmu
Yang setia menghela luku garu
Oooo..kawan
Bila engkau bangun pagi ini
Semoga yang tersisa masih bisa memberi arti
Tegalmade, Oktober 2022
Sumber:
