________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya
kebetulan belaka.
________________________________________________________________________
Kidung
Senyap di Bawah Pisau Cukur
Bunyi klik-klik dari gunting besi tua milik Gempolo seolah menghitung sisa waktu di sore yang lembap itu. Di dalam kios cukur kecilnya yang berbau bedak bayi dan minyak rambut murah, Gempolo masih dengan telaten merapikan rambut seorang pelanggan terakhir. Tangannya yang sudah keriput tetap kokoh memegang silet.
“Hati-hati,
Mbah Gempolo. Leher saya cuma satu,” seloroh Pak RT yang sedang dicukur.
Gempolo
hanya tersenyum tipis, matanya yang mulai kabur fokus pada gKlonthang rambut di
tengkuk tamunya. “Tenang saja, Pak RT. Gunting saya ini punya ingatan. Dia tahu
mana rambut, mana kulit.”
“Tapi
belakangan Mbah sering melamun. Ada apa?”
“Hanya
teringat masa lalu. Udara sore ini persis seperti udara tahun enam puluhan,”
jawab Gempolo pelan.
Tiba-tiba
pintu kios yang terbuat dari kayu lapuk itu terbuka keras. Klonthang, cucu
laki-laki Gempolo yang sedang menempuh kuliah sejarah di kota besar, muncul
dengan napas terengah-engah. Ia membawa sebuah tas kain yang ia dekap erat di
dadanya. Wajahnya pucat.
“Kakek,
kita harus bicara di rumah. Sekarang,” kata Klonthang dengan nada yang tidak
bisa dibantah.
Gempolo
menghentikan gerakannya. Ia melihat kilatan kecemasan di mata cucunya. Ia
segera menyelesaikan cukurannya dengan cepat, lalu membersihkan sisa rambut di
bahu Pak RT.
“Ada
apa, Thang? Tumben pulang nggak bilang-bilang?” tanya Gempolo setelah Pak RT
pergi.
Klonthang
tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah rumah mereka yang terletak persis di
belakang kios. Setelah mereka masuk dan mengunci pintu kayu, Klonthang
meletakkan sebuah buku tua bersampul kain hitam yang sudah mulai hancur dimakan
usia di atas meja makan.
“Aku
menemukannya di gudang bawah tumpukan kayu bakar, Kek,” bisik Klonthang.
Gempolo
tertegun. Jantungnya berdegup kencang saat melihat lambang yang nyaris pudar di
sudut buku itu. Ia mengenalnya. Sangat mengenalnya.
“Kenapa
kamu bongkar-bongkar gudang itu, Thang?” tanya Gempolo, suaranya bergetar.
“Ini
bukan soal bongkar-bongkar, Kek. Kenapa nama Kakek ada di sini sebagai ketua
unit? Dan kenapa ada daftar lagu-lagu ini? Lagu yang... yang sudah puluhan
tahun dilarang?”
Gempolo
menghela napas panjang, ia menarik kursi dan duduk dengan berat. “Simpan buku
itu, Thang. Bakar kalau perlu. Kamu tidak tahu apa yang kamu pegang.”
Klonthang
menggeleng cepat, matanya menyalang. “Bakar? Kek, ini sejarah keluarga kita!
Tapi ini juga... ini juga bisa membuat kita habis kalau orang tahu.”
Gempolo
menatap cucunya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara serak, “Kamu tahu kenapa
kakek jadi tukang cukur selama lima puluh tahun ini?”
***
Malam
itu, Balai Desa masih terang benderang oleh lampu petromaks. Gempolo muda,
dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, berdiri di atas
panggung kayu yang reyot. Di depannya, puluhan pemuda desa berkumpul dengan
mata berbinar-binar.
“Kita
bukan cuma buruh tani! Kita adalah tenaga penggerak!” teriak Gempolo muda
dengan suara yang menggelegar.
“Lagu
baru, Pol! Nyanyikan yang tadi kita latih!” seru seorang pemuda dari pojok
ruangan.
Gempolo
tersenyum lebar. Ia mengambil gitar akustik tuanya. Ia mulai memetik senar,
nada-nadanya tegas dan penuh semangat. Ia mulai bernyanyi tentang tanah,
tentang keringat, dan tentang hari esok yang tanpa penindasan. Semua orang ikut
bernyanyi. Suasana begitu hidup, begitu penuh harapan. Mereka merasa seperti
pahlawan.
“Kek?
Kakek!” suara Klonthang membuyarkan lamunan Gempolo.
Gempolo
kembali ke masa kini. Di depannya, buku catatan itu masih terbuka,
memperlihatkan foto hitam putih dirinya yang masih muda, berdiri gagah di depan
balai desa yang kini sudah rata dengan tanah.
“Dulu
kami merasa benar, Thang. Kami pikir kami sedang membangun surga,” kata Gempolo
pahit.
“Tapi
di buku ini... ada catatan tentang latihan baris-berbaris. Ada catatan tentang
siapa saja yang harus... diamati,” Klonthang menunjuk sebuah halaman dengan
jari gemetar.
“Itu
hanya tugas organisasi, Thang. Kami tidak tahu bahwa semuanya akan berubah
menjadi badai darah dalam semalam,” bela Gempolo.
“Kakek
tahu kan, kalau aku menyerahkan ini ke dosenku, atau jika ini ditemukan saat
penggeledahan dulu, Kakek nggak akan ada di sini sekarang?” tanya Klonthang
dengan nada menuntut.
Gempolo
berdiri, ia mendekati jendela dan melihat ke arah jalan desa yang mulai gelap.
“Itu sebabnya kakek memilih diam. Kakek membuang gitar itu ke sungai. Kakek
belajar memegang gunting cukur, bukan mikrofon. Kakek memotong rambut orang
agar mereka tidak perlu melihat apa yang ada di dalam kepala kakek.”
“Lalu
kenapa Kakek tidak membakar buku ini sejak dulu? Kenapa disimpan?”
Gempolo
terdiam sejenak, lalu menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Karena di dalam sana
ada nama teman-teman kakek yang hilang. Kalau buku itu kakek bakar, mereka akan
benar-benar dianggap tidak pernah ada di dunia ini.”
Klonthang
terdiam, rasa marahnya perlahan luntur menjadi rasa kasihan yang menyesakkan.
“Tapi ini berbahaya, Kek. Sangat berbahaya buat karirku, buat masa depan kita.”
“Kamu
malu punya kakek seperti aku?” tanya Gempolo telak.
Klonthang
menunduk, meremas tangannya sendiri. “Bukan malu, Kek. Aku takut. Aku takut
kalau sejarah yang Kakek simpan ini justru yang akan membunuh kita hari ini.”
***
Malam
semakin larut di kampung itu, namun lampu di ruang tamu Gempolo belum juga
padam. Buku hitam itu masih tergeletak di sana, seolah-olah memiliki detak
jantungnya sendiri yang mengancam ketenangan rumah tersebut.
“Kenapa
Kakek nggak pernah cerita?” Klonthang memulai lagi, suaranya lebih lembut
sekarang.
“Cerita
pada siapa? Pada ayahmu yang sekarang jadi PNS? Dia bisa dipecat kalau tahu
bapaknya punya catatan merah,” jawab Gempolo sambil menyalakan rokok klobotnya.
“Aku
belajar di kampus bahwa masa itu sangat kompleks. Tidak semua orang di daftar
ini jahat, Kek. Banyak yang cuma ikut-ikutan karena dijanjikan sekolah atau
bibit padi gratis,” Klonthang mencoba menganalisis.
Gempolo
tertawa pendek, tawa yang kering. “Bibit padi... ya, itu yang mereka katakan.
Kami menyanyi agar padi tumbuh lebih subur, Thang. Kami menari agar tuan tanah
tidak semena-mena. Apakah itu kejahatan?”
“Secara
ideologi, saat itu, iya. Di mata penguasa setelahnya, iya,” jawab Klonthang
tegas.
“Kamu
bicara seperti orang yang tidak pernah merasakan lapar, Thang. Kamu bicara dari
buku teks. Kakek bicara dari perut yang melilit,” tukas Gempolo.
Klonthang
berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. “Masalahnya bukan itu,
Kek! Masalahnya adalah identitas. Kakek menyembunyikan ini selama puluhan
tahun, berpura-pura menjadi tukang cukur yang taat, hanya untuk menjaga agar
aku dan Ayah bisa hidup normal. Tapi buku ini... buku ini bukti bahwa Kakek
adalah... bagian dari mereka.”
“Pemuda
Rakyat. Sebut saja namanya, jangan takut,” tantang Gempolo.
“Jangan
keras-keras, Kek! Tetangga bisa dengar!” Klonthang panik, ia menutup jendela
dengan terburu-buru.
Gempolo
melihat ketakutan cucunya dan merasa dadanya sesak. Ketakutan itu ternyata
sudah mendarah daging, melompat dari satu generasi ke generasi berikutnya
seperti penyakit keturunan yang tak ada obatnya.
“Lihat
dirimu, Thang. Kamu sudah terpelajar, tapi kamu masih gemetar mendengar sebuah
nama organisasi dari masa lalu,” ujar Gempolo pelan.
“Karena
aku tahu apa yang terjadi pada orang-orang seperti Kakek! Aku tidak mau
kehilangan Kakek, dan aku tidak mau masa depanku hancur hanya karena secarik
kertas tua!” seru Klonthang.
“Lalu
apa maumu? Bakar saja sekarang di belakang. Masukkan ke tungku,” Gempolo
menyodorkan buku itu ke arah Klonthang.
Klonthang
menatap buku itu. Jemarinya menyentuh sampulnya yang kasar. Di dalamnya, ada
sejarah yang jujur, sejarah yang tidak tertulis di buku sekolahnya. Ada daftar
nama-nama tetangga mereka yang dulu tiba-tiba "pindah" dan tidak
pernah kembali.
“Kalau
aku bakar, siapa lagi yang tahu kalau Pak Lik Warno itu dulu seorang orator
hebat? Siapa yang tahu kalau Bu Guru Siti dulu adalah penyanyi lagu perjuangan
yang suaranya bisa membuat orang menangis?” bisik Klonthang.
Gempolo
tersentuh mendengar nama-nama itu disebut. “Mereka orang-orang baik, Thang.
Hanya saja, mereka berada di sisi yang kalah saat sejarah sedang ditulis
ulang.”
“Tapi
kalau aku simpan... aku seperti menyimpan bom waktu di dalam tas kuliahku,”
kata Klonthang, matanya menatap tajam ke arah kakeknya.
“Pilihannya
ada di tanganmu, bukan tanganku. Kakek sudah terlalu tua untuk memikul beban
ini sendirian,” ujar Gempolo sambil mematikan rokoknya.
Klonthang
mengambil buku itu, membungkusnya kembali dengan kain, dan memasukkannya ke
dalam tas. “Aku akan membawanya ke kota. Tapi bukan untuk dibakar.”
Gempolo
menaikkan alisnya. “Lalu?”
“Aku
punya teman, kelompok diskusi sejarah yang bergerak di bawah tanah. Kami sedang
mengumpulkan testimoni korban-korban masa itu. Tapi ini berisiko, Kek. Sangat
berisiko,” jelas Klonthang dengan suara rendah.
Gempolo
terdiam cukup lama. Ia menatap tangan Klonthang yang memegang tas itu. Tangan
yang jauh lebih halus daripadanya, tangan yang belum pernah memegang silet
cukur atau memegang gagang cangkul di bawah terik matahari 1964.
“Apa
Kakek setuju?” tanya Klonthang ragu.
Gempolo
bangkit dari duduknya, mendekati cucunya, dan meletakkan tangan keriputnya di
bahu Klonthang. “Kakek hanya ingin satu hal, Thang. Jika suatu hari nanti lagu
itu boleh dinyanyikan lagi, pastikan namaku tidak ditulis sebagai pengkhianat.”
“Kek,
di luar sana ada mobil hitam berhenti di depan kios,” bisik Klonthang
tiba-tiba, matanya terpaku ke arah celah pintu.
***
Jantung
Gempolo seakan berhenti berdetak. Ia mematikan lampu ruang tamu dengan gerakan
refleks yang ia pelajari dari masa-masa pelarian dulu. Keadaan menjadi gelap
gulita, hanya menyisakan cahaya rembulan yang masuk melalui ventilasi.
“Jangan
bergerak, Thang,” perintah Gempolo.
Mereka
berdua berdiri mematung di balik pintu. Dari luar, terdengar suara pintu mobil
ditutup. Suara langkah kaki sepatu bot mendekati kios cukur, lalu berbelok
menuju pintu rumah.
“Mbah
Gempolo? Mbah? Ini saya, Pak RT,” sebuah suara memecah keheningan.
Klonthang
menghembuskan napas lega yang panjang, pundaknya yang tegang seketika merosot.
Namun Gempolo tetap waspada. Ia membuka pintu sedikit saja, menampakkan
wajahnya yang tampak lelah.
“Ada
apa, Pak RT? Malam-malam begini?” tanya Gempolo.
Pak
RT berdiri di sana dengan raut wajah tidak enak. Di belakangnya, berdiri
seorang pria muda berpakaian rapi yang tidak dikenal Gempolo.
“Maaf
mengganggu, Mbah. Ini ada cucu Pak Kades yang baru pulang dari Jakarta. Dia...
dia sedang mengumpulkan data untuk skripsinya tentang sejarah desa ini. Dia
dengar Mbah Gempolo adalah warga paling sepuh di sini yang tahu banyak soal
masa lalu,” jelas Pak RT.
Gempolo
melirik Klonthang yang berdiri di kegelapan di belakangnya. Klonthang
menggenggam tas kainnya lebih erat. Pria muda itu tersenyum ramah, tapi di mata
Gempolo, senyum itu tampak seperti interogasi.
“Saya
hanya ingin bertanya sedikit tentang kegiatan pemuda di desa ini tahun enam
puluhan, Mbah. Katanya dulu desa ini sangat aktif keseniannya,” kata pria muda
itu dengan nada sopan.
Gempolo
terdiam. Ingatannya melesat ke lagu-lagu itu, ke panggung kayu, ke
teriakan-teriakan semangat yang kini terkubur di bawah rasa takut. Ia melihat
ke arah Klonthang, seolah meminta pertimbangan. Klonthang memberikan isyarat
kecil dengan gelengan kepala, matanya memancarkan peringatan.
“Saya
sudah pikun, Nak. Yang saya ingat cuma cara mencukur rambut dan membedakan mana
uban mana rambut hitam,” jawab Gempolo dengan suara yang tenang namun tegas.
Pria
muda itu tampak sedikit kecewa. “Oh, begitu ya? Sayang sekali. Padahal saya
dengar di gudang-gudang tua desa ini sering ditemukan catatan-catatan lama.
Barangkali Mbah punya satu atau dua?”
Gempolo
menatap pria itu lurus ke matanya. Rasa bangga yang selama ini ia tekan muncul
sedikit ke permukaan. Namun, rasa takut untuk keselamatan Klonthang jauh lebih
besar.
“Semua
catatan sudah habis dimakan rayap, Nak. Sama seperti orang-orangnya,” kata
Gempolo.
Setelah
tamu-tamu itu pergi dan suara mobil menjauh, Klonthang keluar dari kegelapan.
Ia menatap kakeknya dengan penuh kekaguman sekaligus kesedihan.
“Kakek
benar-benar pembohong yang hebat,” bisik Klonthang.
Gempolo
duduk kembali di kursinya, tubuhnya terasa lemas. “Bukan bohong, Thang. Kakek
hanya sedang melindungi apa yang masih bisa dilindungi.”
Klonthang
mendekati kakeknya, lalu duduk di lantai di depan kursi Gempolo. “Kek, kalau
aku bawa buku ini pergi, apa Kakek akan merasa kesepian? Buku ini satu-satunya
saksi kalau Kakek pernah punya semangat itu.”
Gempolo
tersenyum, kali ini senyumnya tulus. Ia mengelus kepala cucunya. “Semangat itu
tidak ada di dalam kertas, Thang. Semangat itu ada di dalam dirimu sekarang.
Kamu berani pulang, kamu berani bertanya, dan kamu berani menyimpan beban ini.
Itu sudah cukup bagi kakek.”
“Aku
akan pergi subuh nanti, sebelum orang-orang bangun,” kata Klonthang.
Gempolo
mengangguk. Ia bangkit, berjalan ke sudut ruangan, dan mengambil gunting cukur
tuanya yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia menyerahkannya pada Klonthang.
“Bawa
ini juga,” kata Gempolo.
“Untuk
apa, Kek?” Klonthang bingung.
Gempolo
menatap gunting itu dengan penuh arti. “Gunting ini sudah memotong ribuan helai
rambut, tapi dia tidak pernah memotong lidahku. Biar gunting ini
mengingatkanmu, bahwa ada kalanya kita harus memangkas apa yang terlihat di
luar, untuk menyelamatkan apa yang ada di dalam.”
Klonthang
menerima gunting itu dengan tangan bergetar. Ia tahu, mulai malam ini, rahasia
itu bukan lagi milik kakeknya sendirian. Rahasia itu telah berpindah, menjadi warisan
yang harus ia jaga atau ia ungkapkan pada dunia yang mungkin belum siap
mendengarnya.
“Kek,
sebelum aku pergi, boleh aku minta satu hal?” tanya Klonthang pelan.
“Apa
itu?”
Klonthang
menatap buku hitam di tasnya, lalu menatap wajah kakeknya yang diterangi cahaya
temaram. “Nyanyikan satu saja lagu dari buku itu... tanpa suara, cukup gerakkan
bibir Kakek saja.”
Gempolo
tertegun. Ia memejamkan mata. Di dalam kepalanya, melodi itu kembali berputar.
Melodi yang gagah, melodi yang pernah membuatnya merasa seperti pemilik masa
depan. Ia mulai menggerakkan bibirnya, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun,
namun Klonthang bisa merasakan getaran udara di ruangan itu berubah menjadi
lebih berat dan penuh emosi.
Selesai
dengan "nyanyian" bisunya, Gempolo membuka mata.
“Kenapa
Kakek berhenti?” tanya Klonthang saat melihat kakeknya tiba-tiba terpaku
menatap pintu belakang yang sedikit terbuka.
“Bukankah
kamu tadi sudah mengunci pintu itu, Thang?” tanya Gempolo dengan suara yang
mendadak dingin.
Spirov
Lengking, 62029032055355