________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak sengaja.
________________________________________________________________________
Gagal, Jegal, dan Jagal
Pak RT Sodik meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan yang
cukup keras di atas meja marmer. Di seberangnya, Bardebok hanya menatap kepulan
uap kopi yang menari-nari. Ruang tamu rumah warisan kakeknya itu terasa lebih
luas dan dingin dari biasanya.
"Saya hanya pengusaha, Pak RT. Urusan mengelola desa itu
beda dengan mengelola kandang sapi atau toko sembako," jawab Bardebok pelan.
"Beda bagaimana? Kamu sudah menghidupi separuh warga
Kosob!" seru Pak Kades lama yang akan segera pensiun. "Tanah yang
dipajaki pemerintah itu, kamu yang kasih DP-nya buat warga. Rumah-rumah yang
diperbaiki itu, semennya dari gudangmu. Siapa lagi yang punya legitimasi
sebesar kamu?"
Bardebok menghela napas. "Itu semua karena warisan Kakek
Brodo, Pak. Saya hanya menyalurkan."
"Justru itu! Darah Brodo Kumuso mengalir di tubuhmu. Dia
dulu tokoh yang disegani, dermawan, dan tegas. Kamu adalah replika sempurnanya,"
Pak RT menyambar cepat.
Tiba-tiba, pintu depan diketuk dengan tidak sabar. Seorang
pemuda tanggung masuk dengan napas tersengal.
"Pak! Warga sudah berkumpul di depan balai desa. Mereka
membawa spanduk!"
Bardebok berdiri, sedikit panik. "Spanduk apa lagi?"
"Tulisannya: 'Bardebok atau Kosob Mati Suri'. Mereka bilang
kalau Mas Debok tidak mendaftar hari ini, mereka akan memboikot Pilkades,"
lapor pemuda itu.
"Gila... itu namanya paksaan," gumam Bardebok.
"Itu namanya cinta, Debok," timpal Pak RT sambil menepuk
bahu Bardebok. "Dukunganmu di atas kertas itu sembilan puluh sembilan
persen. Tidak ada yang berani maju kalau kamu sudah menyatakan siap. Si Darsun
yang biasanya ambisius saja langsung ciut nyalinya begitu mendengar namamu
disebut-sebut warga."
Bardebok berjalan ke jendela, melihat ke arah gerbang rumahnya
yang mulai dipenuhi kerumunan orang. Mereka berteriak memanggil namanya. Di
mata mereka, Bardebok adalah orang suci. Sosok tanpa cela yang selalu punya
solusi finansial bagi setiap masalah warga.
"Mas Debok, tolonglah. Hanya Anda yang bisa menyatukan
Kampung Gedab dan seluruh Kosob," rengek si pemuda lagi.
"Saya butuh waktu untuk menyiapkan berkas," kata
Bardebok akhirnya.
"Berkas apa? Akta kelahiran, ijazah, surat kelakuan baik?
Semuanya sudah kami bantu urus ke kecamatan kemarin. Kamu tinggal tanda tangan
di formulir pendaftaran ini," Pak RT mengeluarkan selembar kertas dari tas
kulitnya yang kusam.
Bardebok menatap kertas itu seolah-olah itu adalah surat vonis
mati. "Ijazah kakek dan dokumen keluarga... saya harus mengambilnya di
brankas tua di gudang belakang."
"Nah, begitu dong! Kami tunggu di sini. Jangan lama-lama,
pendaftaran tutup jam empat sore," kata Pak RT dengan wajah cerah.
Bardebok berbalik, melangkah menuju bagian belakang rumahnya
yang besar. Ia melewati lorong-lorong gelap yang dipenuhi foto tua Kakek Brodo
Kumuso. Di setiap foto, kakeknya selalu tersenyum wibawa dengan setelan jas
kuno.
"Kenapa perasaan saya tidak enak begini?" bisik
Bardebok pada dirinya sendiri.
Ia sampai di depan sebuah pintu jati tebal yang jarang dibuka.
Kunci besar di tangannya terasa sangat berat.
"Mas Debok, kenapa berhenti di situ?" suara Pak RT
berteriak dari ruang tamu.
"Sebentar, kuncinya agak macet!" balas Bardebok.
Ia memutar kunci itu. Klik.
Pintu terbuka, menyemburkan aroma debu dan kertas tua yang lembap. Di sudut
ruangan, sebuah peti besi peninggalan era kolonial berdiri tegak. Itulah
brankas rahasia Brodo Kumuso.
"Ayo cepat, Mas, warga sudah mulai anarkis di luar!"
seru si pemuda dari kejauhan.
Bardebok membuka brankas itu dengan kombinasi angka yang sudah
ia hafal sejak kecil. Di dalamnya, tumpukan sertifikat tanah dan emas batangan
tertata rapi. Namun, di bawah tumpukan itu, ia melihat sebuah map kulit
berwarna merah darah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Map apa ini?" gumamnya.
Ia membukanya. Matanya terbelalak melihat sebuah kartu identitas
tua dengan logo partai terlarang yang sangat kecil di pojok bawah, tertulis
nama: Brodo Kumuso – Komandan Operasi
Pemuda Rakyat.
"Mas Debok, sudah ketemu belum?"
*
Bardebok merasa lututnya lemas. Ia terduduk di lantai gudang
yang dingin, memegang map merah itu dengan tangan gemetar. Ia membolak-balik
lembaran di dalamnya. Ini bukan sekadar dokumen organisasi. Ini adalah jurnal
harian.
"Ini tidak mungkin," bisiknya.
Di halaman pertama, tertulis tanggal Oktober 1965. Tulisannya
rapi, dingin, dan tanpa penyesalan.
Hari ini, target di Desa Ngicek sudah diselesaikan. Si tukang kayu
itu terlalu banyak bicara soal agama. Kita buat dia diam selamanya di lubang
hutan jati. Hartanya kita sita untuk perjuangan.
Bardebok membalik halaman berikutnya. Isinya lebih mengerikan.
Agitasi di pasar berhasil. Provokasi antara kelompok pemuda
berhasil menyulut tawuran. Tiga orang tewas. Bagus. Dalam kekacauan, kita bisa
menyingkirkan lawan politik tanpa tangan kita terlihat kotor.
"Mas Debok? Kok lama sekali? Kami masuk ya?" suara Pak
RT terdengar mendekat ke arah gudang.
"Jangan! Jangan masuk!" teriak Bardebok dengan suara
serak.
Langkah kaki di luar berhenti. "Loh, kenapa? Ada
masalah?"
"S-saya... saya sedang mencari akta kelahiran yang
terselip. Tolong tunggu di depan saja!" Bardebok berusaha menstabilkan
suaranya.
"Ya sudah, tapi cepat ya. Waktu kita tidak banyak,"
sahut Pak RT dari balik pintu.
Bardebok kembali memfokuskan matanya pada dokumen itu. Di sana
ada manifes rahasia. Kakeknya, Brodo Kumuso, seharusnya ditangkap dalam
pembersihan tahun '66. Namun, ada catatan kaki di sana: 'Identitas dialihkan menjadi
pedagang sapi dari luar daerah. Nama asli dihilangkan dari daftar pencarian
berkat bantuan orang dalam yang sudah kita suap dengan emas.'
Bardebok menyentuh emas-emas batangan di dalam brankas.
Tiba-tiba emas itu terasa seperti bongkahan daging busuk. Semua kekayaan ini,
semua tanah yang ia gunakan untuk membantu warga, berasal dari penjarahan dan
darah orang-orang yang "dijagal" oleh kakeknya.
"Astaga... Kakek bukan pahlawan. Kakek adalah jagal,"
desis Bardebok.
Ia menemukan sebuah foto hitam putih di selipan jurnal. Kakeknya
berdiri di depan sebuah rumah yang terbakar, memegang parang, dikelilingi
pemuda-pemuda lain. Wajah kakeknya tampak begitu haus darah, sangat berbeda
dengan senyum ramah di foto-foto yang dipajang di ruang tamu.
"Mas Debok! Ini Darsun datang ke rumah!" teriak Pak RT
lagi.
Bardebok tersentak. Darsun? Rival politiknya? Untuk apa dia ke
sini?
Bardebok memasukkan map merah itu ke dalam bajunya, lalu
mengambil akta kelahiran dan dokumen lain yang diperlukan. Ia keluar dari
gudang dengan wajah pucat pasi. Di ruang tamu, Darsun berdiri dengan tangan
bersedekap, didampingi dua orang pengawalnya yang berwajah garang.
"Wah, calon Kades kita sudah keluar," sindir Darsun.
"Gimana, Debok? Sudah siap mendaftar?"
"Apa maumu, Darsun?" tanya Bardebok dingin.
"Aku cuma mau bilang, jangan merasa terlalu aman. Aku tahu
kamu punya rahasia. Tidak ada orang yang sebersih itu di dunia ini,"
Darsun melangkah mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Bardebok. "Aku
tahu soal kakekmu."
Jantung Bardebok seakan berhenti berdetak. Apa dia tahu soal map merah
itu?
"Jangan gertak aku," tantang Bardebok, meski suaranya
bergetar.
"Aku punya saksi orang tua di desa sebelah yang ingat siapa
kakekmu sebenarnya sebelum dia jadi juragan sapi," Darsun menyeringai.
"Jadi, kalau kamu mau selamat, batalkan pendaftaranmu sekarang juga."
"Kamu mencoba menjegal saya dengan fitnah?" Bardebok
menatap tajam.
"Fitnah? Kita lihat saja nanti," Darsun tertawa kecil.
"Pak RT, sebaiknya Anda jangan terlalu memuja orang ini. Darah itu lebih
kental daripada air, dan darah yang mengalir di sini... sangat anyir."
Darsun berbalik dan keluar dari rumah. Pak RT tampak bingung,
sementara Bardebok merasa dunia di sekelilingnya mulai runtuh.
"Jangan dengarkan dia, Debok. Dia cuma iri," kata Pak
RT menenangkan.
"Pak RT, saya harus pergi ke kantor pendaftaran sekarang,"
kata Bardebok datar.
"Nah, begitu! Ayo, kita kawal sampai sana!"
*
Kantor pendaftaran Kepala Desa Kosob dipenuhi lautan manusia.
Mereka bersorak ketika mobil Bardebok sampai. Spanduk-spanduk berisi dukungan
membentang di mana-mana. Bagi mereka, Bardebok adalah juru selamat.
"Hidup Pak Bardebok! Hidup calon Kades kita!"
Bardebok berjalan menembus kerumunan dengan langkah robotik. Di
dalam hatinya, terjadi perang hebat. Jika ia mendaftar dan menang, ia akan
menjadi pemimpin di atas tanah yang kakeknya rebut dengan darah. Setiap
kebijakan yang ia ambil akan dibiayai oleh uang haram peninggalan seorang
eksekutor partai terlarang.
"Silakan, Mas Bardebok. Ini formulir resminya. Tinggal
tanda tangan dan serahkan berkas pendukung," kata petugas pendaftaran
dengan hormat.
Pak RT menyodorkan pulpen emas milik Bardebok. "Ayo, Debok.
Ini sejarah buat desa kita."
Bardebok menatap formulir itu. Pikirannya melayang kembali ke
jurnal di balik bajunya. Ia teringat nama-nama korban yang dicatat kakeknya.
Ada satu nama yang menarik perhatiannya tadi: Keluarga Darsun senior.
Wait, pikir Bardebok. Apakah
Darsun yang tadi itu adalah cucu dari orang yang kakekku singkirkan?
"Mas? Kenapa melamun?" tanya petugas.
Bardebok mengambil pulpen itu. Tangannya gemetar. Ia mulai
menulis namanya. B-a-r-d-e-b-o-k.
Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan, terdengar teriakan.
"Jangan biarkan dia memimpin! Dia keturunan pembunuh!"
Suasana menjadi riuh. Polisi segera mengamankan provokator itu,
yang ternyata salah satu anak buah Darsun.
"Abaikan saja, Mas. Itu cuma trik murahan Darsun buat
menjegal Anda," bisik Pak RT.
Bardebok berhenti menulis. Kalimat "menjegal" itu
terngiang-ngiang. Darsun mencoba menjegalnya dengan masa lalu kakeknya. Tapi
Darsun tidak tahu seberapa buruk masa lalu itu sebenarnya. Darsun hanya punya
rumor, sementara Bardebok memegang bukti tertulis di balik bajunya.
"Pak RT," suara Bardebok sangat rendah.
"Ya, Debok?"
"Siapa nama asli Kakek Brodo sebelum pindah ke desa
ini?"
Pak RT tampak berpikir sejenak. "Setahu saya ya Brodo
Kumuso. Kenapa tanya begitu?"
Bardebok menoleh ke arah petugas pendaftaran. "Boleh saya
lihat arsip kependudukan lama untuk syarat validasi silsilah? Saya ingin
memastikan tidak ada kesalahan administrasi."
"Tentu, Mas. Ini ada buku besar kependudukan tahun enam
puluhan yang baru saja didigitalisasi sebagian," petugas itu memberikan
sebuah tablet.
Bardebok mencari nama kakeknya. Tidak ada. Ia mencari
berdasarkan alamat rumah tua mereka. Yang muncul adalah nama: Djagal Harjo.
Darah Bardebok membeku. Djagal
Harjo. Di jurnal itu, Djagal Harjo adalah nama samaran operasional
kakeknya saat melakukan eksekusi lapangan. Ternyata kakeknya tidak hanya
memakai nama itu sebagai sandi, tapi itu adalah identitas aslinya sebelum
"dicuci" menjadi Brodo Kumuso yang dermawan.
"Ada masalah, Mas?" tanya petugas.
Bardebok melihat ke arah jendela. Di luar, warga masih bersorak.
Mereka mencintai "Bardebok cucu Brodo yang baik hati". Mereka tidak
tahu bahwa mereka sedang menyembah cucu dari orang yang mungkin saja telah menghancurkan
kepala kakek-nenek mereka lima puluh tahun yang lalu.
"Saya..." Bardebok meletakkan pulpennya.
"Ayo, tanda tangan, Debok! Cuma tinggal satu coretan!"
desak Pak RT.
Bardebok menarik napas panjang. Ia merobek formulir pendaftaran
itu di depan semua orang.
"Loh! Mas Debok! Apa-apaan ini?!" Pak RT melompat dari
kursinya.
Suasana kantor pendaftaran mendadak hening. Para wartawan lokal
segera mengarahkan kamera mereka. Warga di luar yang melihat dari jendela mulai
kasak-kusuk.
"Saya menarik diri dari pencalonan ini," ucap Bardebok
tegas.
"Tapi kenapa? Kamu sudah didaftarkan warga! Kamu tidak bisa
membatalkan begitu saja!" Pak RT berteriak frustrasi.
"Alasannya sangat pribadi," jawab Bardebok sambil
menatap mata Pak RT. "Dan saya tidak akan pernah mendaftar lagi.
Selamanya."
"Ini pasti gara-gara ancaman Darsun tadi, kan? Jangan
takut, Debok! Kami semua ada di belakangmu!"
Bardebok menggeleng. "Bukan karena dijegal Darsun, Pak RT.
Ini soal sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jabatan Kades."
"Apa yang lebih besar dari amanat rakyat, Debok?!"
Bardebok tidak menjawab. Ia berjalan keluar melewati kerumunan
yang kini menatapnya dengan kekecewaan dan amarah. Beberapa orang mulai
mencemoohnya.
"Penakut!"
"Pengecut!"
Ia terus berjalan menuju mobilnya. Di sana, Darsun sudah
menunggu sambil bersandar di pintu mobil dengan senyum kemenangan.
"Jadi, kamu menyerah karena gertakanku?" tanya Darsun
sombong.
Bardebok berhenti tepat di depan Darsun. Ia merobek satu halaman
dari map merah di balik bajunya—halaman yang berisi daftar eksekusi keluarga
Darsun—lalu meremasnya dalam kepalan tangan.
"Kamu pikir kamu menang, Darsun?" tanya Bardebok
dengan nada yang sangat misterius.
"Tentu saja. Aku berhasil menjegalmu."
Bardebok tersenyum pahit, sebuah senyuman yang membuat Darsun
tiba-tiba merasa merinding.
"Kamu tidak menjegal saya, Darsun. Kamu hanya tidak tahu
seberapa beruntungnya kamu hari ini," bisik Bardebok.
"Apa maksudmu?"
*
Mobil Bardebok meluncur membelah jalanan desa yang mulai gelap.
Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik. Supir pribadinya, Mang Karsa, yang
sudah bekerja sejak zaman Kakek Brodo, hanya diam menatap jalan.
"Mang," panggil Bardebok.
"Iya, Den?"
"Mang Karsa tahu siapa Djagal Harjo?"
Mobil itu mendadak oleng sedikit sebelum Mang Karsa berhasil
menyeimbangkannya kembali. Cengkeraman tangan tua itu pada setir tampak
memutih.
"Kenapa Den Debok tanya soal itu? Nama itu sudah dikubur
dalam-dalam," suara Mang Karsa bergetar.
"Ternyata benar ya, Mang. Semua kemewahan ini... rumah ini,
tanah-tanah itu... semuanya hasil jagalan?"
Mang Karsa terdiam cukup lama. Ia memarkirkan mobil di pinggir
hutan jati, tempat yang konon menjadi saksi bisu peristiwa kelam masa lalu.
"Den Debok sudah buka brankas itu, ya?" Mang Karsa
menoleh. Matanya berkaca-kaca. "Tuan Brodo... atau Tuan Djagal... dia
memang orang keras di masa mudanya. Tapi dia melakukan itu semua untuk menjamin
Den Debok punya masa depan yang layak. Dia tidak ingin cucunya hidup melarat
seperti dia."
"Dengan cara membunuh orang, Mang? Dengan cara mengadu
domba pemuda sampai mereka saling bantai?" suara Bardebok meninggi.
"Tadi saya hampir saja jadi pemimpin mereka. Bagaimana mungkin saya
memimpin orang-orang yang keluarganya dihancurkan oleh kakek saya
sendiri?"
"Tapi warga mencintai Den Debok! Den sudah menebus dosa
Tuan Brodo dengan semua bantuan itu!"
"Dosa tidak bisa ditebus dengan uang hasil jarahan, Mang!
Itu namanya mencuci darah dengan darah!" Bardebok memukul dasbor mobil.
Ia keluar dari mobil, menghirup udara malam yang dingin. Di
kejauhan, ia melihat lampu-lampu desa Kosob. Desa yang begitu tenang, namun
menyimpan ribuan rahasia di bawah tanahnya.
Tiba-tiba, ponsel Bardebok berdering. Nama "Pak RT
Sodik" muncul di layar. Bardebok mengangkatnya.
"Debok! Kamu harus kembali! Warga mengamuk di depan
rumahmu! Mereka pikir kamu menarik diri karena disuap oleh Darsun. Darsun
sekarang malah dipukuli massa karena dianggap mengancammu!" teriak Pak RT
di telepon.
Bardebok memejamkan mata. Ironi ini sungguh luar biasa. Korban
(Darsun) sekarang malah disiksa oleh warga yang membela cucu dari si pembantai
(Bardebok).
"Biarkan saja, Pak RT. Saya tidak peduli," kata
Bardebok datar.
"Kamu gila! Ini bisa jadi kerusuhan antar dusun! Kamu
satu-satunya yang bisa menghentikan mereka!"
Bardebok menutup teleponnya. Ia menatap Mang Karsa yang berdiri
di samping mobil.
"Mang, apa Mang ingat siapa saja yang kakek habisi di hutan
ini?"
Mang Karsa menunduk. "Terlalu banyak, Den. Tapi yang paling
saya ingat adalah seorang guru mengaji. Dia tidak bersalah, dia hanya menolak
ajakan kakek untuk bergabung dengan Pemuda Rakyat. Kakek sendiri yang
mengeksekusinya di bawah pohon jati besar itu."
Bardebok berjalan menuju pohon yang ditunjuk Mang Karsa. Di
sana, ia berlutut. Ia merogoh map merah di balik bajunya, mengambil korek api,
dan membakar lembar demi lembar jurnal itu.
"Den, apa yang Den lakukan? Itu bukti sejarah!" seru
Mang Karsa.
"Ini bukan sejarah, Mang. Ini kutukan. Dan saya tidak akan
membiarkan kutukan ini berlanjut," kata Bardebok sambil menatap api yang
melalap kertas-kertas tua itu.
Namun, saat api hampir menghabiskan lembar terakhir, Bardebok
melihat sesuatu yang belum sempat ia baca di bagian paling belakang map. Sebuah
surat yang ditulis dengan tinta yang berbeda, tampak lebih baru.
Untuk cucuku, Bardebok.
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah menemukan siapa aku
sebenarnya. Kamu mungkin membenciku. Tapi ketahuilah, jabatan Kepala Desa yang
akan kamu pegang nanti bukan sekadar jabatan. Itu adalah benteng. Aku telah
menyusun skenario agar hanya keturunanku yang bisa memimpin desa ini. Kenapa?
Karena di bawah balai desa itu, terkubur sesuatu yang tidak boleh ditemukan
oleh siapapun. Jika orang lain yang memimpin, mereka akan menggali, dan seluruh
rahasia kita akan terbongkar.
Bardebok tertegun. Api hampir menyambar jarinya.
"Mang! Di bawah balai desa ada apa?" tanya Bardebok
panik.
Mang Karsa wajahnya mendadak pucat pasi, lebih pucat dari
sebelumnya. "Tuan Brodo tidak pernah cerita soal itu pada Den?"
"Katakan sekarang, Mang!"
"Itu... itu adalah lubang pembuangan terakhir, Den. Bukan
cuma satu atau dua orang. Tapi puluhan. Kakekmu membangun balai desa di atasnya
agar tidak ada yang berani membongkar tanah itu. Itu adalah fondasi kekuasaan
keluarga kita."
Bardebok menjatuhkan surat itu ke api. Ia merasa mual yang luar
biasa. Balai desa, tempat warga bermusyawarah, tempat anak-anak bermain,
ternyata adalah sebuah kuburan massal yang sengaja ditutupi oleh kemegahan
bangunan.
"Mas Debok! Mas!" sebuah suara teriakan muncul dari
arah semak-semak.
Ternyata itu adalah Darsun. Wajahnya babak belur, bajunya robek.
Ia sepertinya berhasil melarikan diri dari amukan massa dan mengejar Bardebok.
"Darsun? Bagaimana kamu tahu aku di sini?"
Darsun terengah-engah, memegang lututnya. "Aku tahu... aku
tahu soal kakekmu lebih dari yang kamu kira, Debok. Aku punya dokumen yang
lebih lengkap dari yang kamu pegang."
Bardebok menatap Darsun dengan dingin. "Apa maumu sekarang?
Uang? Kamu mau memeras saya?"
Darsun tertawa sinis, meski mulutnya berdarah. "Uangmu
tidak akan bisa mengembalikan nyawa kakekku. Aku ingin kamu tetap mencalonkan
diri. Aku ingin kamu menang."
Bardebok mengerutkan kening. "Apa? Tadi kamu
melarangku."
"Itu sebelum aku tahu rencana pemerintah kabupaten,"
kata Darsun sambil mendekat. "Bulan depan, mereka akan merenovasi total
balai desa. Mereka akan menggali fondasinya untuk dibuat basement. Kamu tahu
apa artinya itu, kan?"
Bardebok terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
"Hanya seorang Kepala Desa yang punya wewenang untuk
mengubah rencana renovasi itu atau menghentikannya," lanjut Darsun dengan
mata berkilat. "Jika kamu tidak jadi Kades, rahasia kakekmu akan
terbongkar. Dunia akan tahu siapa Brodo Kumuso sebenarnya. Dan kamu... kamu
akan kehilangan semuanya. Hartamu akan disita, namamu akan busuk."
Bardebok menatap Darsun tak percaya. "Lalu kenapa kamu
ingin aku tetap menang? Bukankah kamu membenci kakekku?"
Darsun menyeringai lebar, menampakkan giginya yang merah karena
darah.
"Karena kalau kamu jadi Kades, aku akan menjadi orang yang
memegang lehermu selamanya. Kamu akan jadi bonekaku, atau aku sendiri yang akan
membawa buldoser itu ke balai desa."
Bardebok menatap api yang kini sudah padam, menyisakan abu dari
jurnal kakeknya. Ia melihat ke arah Mang Karsa, lalu kembali ke Darsun.
"Jadi ini pilihan saya?" tanya Bardebok pelan.
"Menjadi pengkhianat sejarah untuk menutupi jejak sang jagal, atau hancur
bersama rahasia itu?"
Darsun meludah ke tanah. "Pilihannya sederhana, Debok.
Jadilah pemimpin, atau jadilah sampah."
Bardebok terdiam cukup lama. Angin malam berdesir di antara
pohon jati, seolah membawa suara bisikan ribuan nyawa yang terkubur di bawah
sana.
"Mang Karsa," panggil Bardebok.
"Iya, Den?"
"Ambilkan bensin di bagasi."
Darsun mengernyit. "Buat apa bensin? Kamu mau membakar
aku?"
Bardebok tidak menjawab. Ia mengambil botol bensin dari tangan
Mang Karsa, lalu menyiramkannya ke seluruh map merah yang sudah jadi abu, juga
ke arah beberapa dokumen sisa yang belum terbakar sempurna.
"Darsun," kata Bardebok sambil menyulut korek api
terakhir. "Kamu belum tahu satu hal tentang kakekku."
"Apa?"
"Dia tidak hanya suka membunuh. Dia juga sangat benci
meninggalkan jejak yang bisa digunakan orang lain untuk mengontrolnya."
Bardebok melemparkan korek api itu ke tanah yang basah oleh
bensin. Api berkobar tinggi sesaat.
"Aku tidak akan jadi Kepala Desa," kata Bardebok
mantap.
"Kamu gila! Kamu akan hancur!" teriak Darsun.
"Biarkan saja. Biarkan mereka menggali balai desa itu.
Biarkan dunia tahu. Aku lebih baik jatuh miskin dan dihina daripada hidup
sebagai boneka seorang pemeras yang menggunakan darah kakeknya sendiri sebagai
umpan."
Bardebok berbalik menuju mobil.
"Debok! Kamu tidak bisa melakukan ini! Aku akan
menghancurkanmu!" Darsun berteriak histeris di tengah kegelapan hutan.
Bardebok berhenti sebentar sebelum masuk ke mobil. Ia menoleh ke
arah Darsun.
"Satu lagi, Darsun. Kakekku memang seorang jagal. Tapi dia
gagal dalam satu hal."
"Apa itu?"
*
Pagi itu, Desa Kosob gempar. Bukan karena Bardebok yang
membatalkan pendaftarannya, tapi karena sebuah pengakuan tertulis yang tersebar
di setiap pintu rumah warga. Pengakuan itu lengkap dengan salinan dokumen asli
yang ternyata sudah difotokopi oleh Bardebok sebelum ia membakar jurnalnya.
Bardebok berdiri di balkon rumahnya, melihat warga yang
berkerumun di depan gerbang. Kali ini mereka tidak membawa spanduk dukungan.
Mereka membawa batu. Mereka membawa kemarahan.
"Keluar kamu, cucu komunis!"
"Kembalikan tanah kami! Dasar perampok!"
Polisi sudah berjaga di depan rumah untuk mencegah massa masuk.
Pak RT Sodik berdiri di tengah kerumunan dengan wajah yang hancur. Ia merasa
telah dikhianati oleh orang yang paling ia percayai.
"Debok! Kenapa kamu lakukan ini secara terbuka?!"
teriak Pak RT dari bawah.
Bardebok melangkah ke tepi balkon. Suaranya lantang, dibantu
oleh pengeras suara yang biasa ia gunakan untuk acara bakti sosial.
"Warga Kosob yang saya cintai! Semua yang kalian baca itu
benar! Saya berdiri di sini bukan sebagai calon pemimpin kalian, tapi sebagai
terdakwa!"
Suasana sedikit mereda, tapi ketegangan tetap terasa.
"Semua harta yang saya miliki, rumah ini, tanah-tanah yang
saya pinjamkan kepada kalian, semuanya berasal dari tangan berdarah Djagal
Harjo alias Brodo Kumuso! Saya tidak layak memimpin kalian. Dan saya tidak
ingin membiarkan kebohongan ini terkubur selamanya di bawah kantor desa
kita!"
Massa mulai berbisik-bisik.
"Mulai hari ini, saya menyerahkan seluruh aset keluarga
Brodo Kumuso kepada negara untuk dikelola bagi kepentingan ahli waris para
korban yang namanya tercatat dalam daftar tersebut! Termasuk tanah di bawah
Balai Desa!"
Darsun, yang berada di tengah kerumunan, tampak pucat.
Rencananya untuk memeras Bardebok gagal total. Dengan Bardebok yang mengaku
sendiri secara publik, kartu as Darsun tidak lagi berharga. Ia justru terancam
karena keluarganya juga sempat menikmati sisa-sisa "damai" dari kakek
Bardebok.
"Dan untuk kamu, Darsun!" Bardebok menunjuk ke arah
rivalnya itu. "Silakan ambil kembali apa yang kamu klaim sebagai milikmu
melalui jalur hukum. Saya tidak akan menghalangi."
Bardebok masuk kembali ke dalam rumah. Ia melihat Mang Karsa
sedang mengemasi tas kecil.
"Den, kita mau ke mana?" tanya Mang Karsa lirih.
"Kita ke kantor polisi, Mang. Saya harus
mempertanggungjawabkan semua ini. Meskipun saya tidak melakukannya, harta ini
adalah hasil kejahatan. Saya harus menyerahkan diri."
"Tapi Den... Den tidak bersalah."
"Diam dan menikmati hasil jarahan juga sebuah kesalahan,
Mang."
Bardebok mengambil sebuah foto kecil dari meja kerjanya. Foto
dia saat masih kecil, digendong oleh Kakek Brodo. Ia merobek foto itu menjadi
dua, memisahkan dirinya dari sosok sang kakek.
Ia berjalan menuju pintu depan, siap menghadapi amukan massa
atau proses hukum yang panjang. Namun sebelum ia membuka pintu, telepon di ruang
tamu berdering sekali lagi. Kali ini dari nomor yang tidak dikenal.
Bardebok mengangkatnya.
"Halo?"
"Bardebok," suara di seberang sana terdengar tua,
serak, dan sangat dingin. "Kamu pikir dengan mengaku semuanya, kamu sudah
selesai?"
Bardebok mengerutkan kening. "Siapa ini?"
"Kakekmu tidak bekerja sendirian di tahun enam puluh lima.
Masih banyak 'Djagal' lain yang masih hidup dan sekarang memegang posisi
penting di pemerintahan pusat. Dan mereka tidak senang kamu membuka kotak
pandora ini."
Bardebok merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
"Siapa kalian?"
"Kami adalah orang-orang yang memastikan kakekmu tetap aman
selama lima puluh tahun. Sekarang kamu telah menghancurkan perlindungan itu.
Jangan harap kamu bisa sampai ke kantor polisi dengan selamat."
Bardebok terdiam. Ia melihat ke luar jendela. Sebuah mobil hitam
dengan kaca gelap baru saja berhenti di belakang kerumunan warga. Beberapa
orang berpakaian rapi namun berwajah dingin turun dari mobil itu. Mereka tidak
membawa batu. Mereka membawa sesuatu yang disembunyikan di balik jas mereka.
Bardebok menatap Mang Karsa, lalu tersenyum pahit. Ia menyadari
bahwa perjalanannya baru saja dimulai—atau mungkin baru saja akan berakhir.
"Mang, sepertinya kita tidak akan ke kantor polisi hari
ini," bisik Bardebok.
"Kenapa, Den?"
Bardebok memegang gagang pintu, lalu menoleh ke arah telepon
yang masih tersambung.
"Kakek saya mungkin gagal mendidik saya jadi penjahat, tapi
dia berhasil mewariskan satu hal: keberanian untuk mati."
Ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar, menghadapi massa yang marah dan para penembak gelap yang menunggu di balik keramaian.
"Siapa di antara kalian yang ingin menjagal saya lebih
dulu?"
Spirov Lengking, 62029091093330