Di sebuah hutan yang lebat dan hijau, hiduplah seekor kancil yang sangat cerdik. Namanya Si Kancil. Dia terkenal sebagai binatang yang pintar. Juga kencang larinya.
Suatu hari, Si Kancil berjalan-jalan di tepi sungai. Tiba-tiba, dia merasa lapar, tapi makanan ada di seberang sungai. Dirinya tidak bisa menyeberangi sungai yang airnya sedang pasang.
Si Kancil melihat sekelompok buaya sedang berjemur di tepi sungai. Si Kancil tahu bahwa buaya-buaya itu sangat berbahaya. Tapi binatang cerdik juga tahu bahwa mereka sangat bodoh.
Si Kancil berpikir sejenak. "Aku punya ide," katanya pada diri sendiri. "Aku akan membohongi buaya-buaya itu agar mereka membantuku menyeberangi sungai."
Si Kancil mendekati buaya-buaya itu dengan hati-hati. "Hai, buaya-buaya yang gagah," sapa Si Kancil. "Aku punya tawaran menarik untuk kalian."
Buaya-buaya itu menoleh ke arah Si Kancil. "Apa tawarannya?" tanya salah satu buaya dengan suara parau.
"Raja hutan ingin memberikan hadiah untuk hewan yang paling banyak di hutan," kata Si Kancil. "Aku diminta untuk menghitung berapa banyak buaya di sungai ini."
Buaya-buaya itu sangat senang mendengar tawaran Si Kancil. Mereka berpikir bahwa mereka akan menjadi hewan yang paling banyak di hutan dan akan mendapatkan hadiah yang besar.
"Bagaimana cara menghitungnya?" tanya buaya yang lain.
"Kalian semua harus berbaris dari tepi sungai ini sampai ke tepi sungai yang lain," kata Si Kancil. "Aku akan melompat ke atas punggung kalian dan menghitung satu per satu."
Buaya-buaya itu setuju dengan usulan Si Kancil. Mereka segera berbaris dari tepi sungai sampai ke tepi sungai yang lain.
Si Kancil pun mulai melompat ke atas punggung buaya-buaya itu. "Satu, dua, tiga, empat, lima, ..." kata Si Kancil sambil melompat.
Setelah sampai di tepi sungai yang lain, Si Kancil segera berlari menjauh dari buaya-buaya itu. "Terima kasih banyak, buaya-buaya yang gagah," kata Si Kancil. "Raja hutan pasti akan senang mendengar bahwa kalian adalah hewan yang paling banyak di hutan."
Buaya-buaya itu sangat marah karena mereka merasa tertipu. Tapi mereka tidak bisa mengejar Si Kancil karena Si Kancil lari menjauh sekencang-kencang.
Si Kancil pun berhasil menyeberangi sungai dan mendapatkan makanan yang diinginkannya. Dia tertawa terbahak-bahak saat teringat betapa bodohnya buaya-buaya itu.
Spirov Lengking, 620250220152
