________________________________________________________________________
Disclaimer:
Tulisan ini termasuk cerpen
(cerita pendek). Cerita pendek adalah cerita fiksi. Cerita fiksi hasil khayalan
manusia. Cerpen bukan fakta, bukan kenyataan, tidak pernah terjadi dalam
kehidupan nyata.
Kesamaan nama, tempat,
kejadian, atau yang lainnya dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan, hanya
kebetulan belaka.
________________________________________________________________________
Tanah
yang Menjadi Kabut
Langit
di atas Klaten merona jingga yang sakit, seolah-olah matahari enggan tenggelam
ke dalam perut bumi yang kering. Markiyo berdiri di pematang, menatap dua bahu
tanah yang retak-retak. Di tangannya, selembar kertas lusuh dengan cap merah
bergambar arit dan palu terasa lebih berat daripada cangkulnya.
"Kamu
masih menatap tanah itu seperti menatap bidadari, Mar?"
Markiyo
menoleh. Karmo berdiri di belakangnya, menyeringai dengan gigi yang menghitam
karena tembakau.
"Tanah
ini janji, Mo. Bukan cuma mimpi," jawab Markiyo pendek.
"Janji
dari siapa? Pak Haji Dullah yang pelitnya minta ampun itu?"
"Bukan
dari dia. Dari organisasi. Kita sudah rapat di balai desa kemarin. Aksi Sepihak
itu sah menurut undang-undang bagi hasil. Haji Dullah punya tanah luasnya tidak
masuk akal, sementara kita makan tiwul setiap hari."
Karmo
mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang ganjil. "Tapi suasananya
beda sekarang, Mar. Di pasar tadi pagi, orang-orang mulai bicara soal
'pembersihan'. Kamu tidak merasa ada yang aneh?"
"Aneh
bagaimana? Kita cuma minta hak. Landreform itu aturan negara."
"Ini
bukan soal aturan lagi. Ini soal siapa yang punya bedil. Kamu itu pimpinan BTI
di sini, semua mata menujumu."
Markiyo
mengusap debu di celananya. "Aku tidak takut. Kalau tanah ini jatuh ke
tanganku, anakku bisa sekolah ke kota. Aku lelah jadi jongos di tanah
sendiri."
"Tapi
kalau tanah ini malah jadi kuburanmu sendiri, bagaimana?"
Markiyo
terdiam. Angin sore berhembus dingin, membawa bau kemenyan entah dari mana.
"Jangan
bicara sembarangan, Mo. Malam ini kita kumpul lagi di rumah panggung. Kita
tentukan jadwal pembagian patok tanah Haji Dullah."
Karmo
menatap Markiyo lama, matanya menyipit misterius. "Aku hanya tidak ingin
melihatmu jadi tumbal politik yang lebih besar dari sawah ini."
"Apa
maksudmu?"
"Kamu
dengar suara truk tentara di jalan raya tadi?"
"Hanya
truk lewat, Mo. Kenapa kamu jadi pengecut begini?"
Karmo
meludah ke tanah yang retak. "Bukan pengecut, Mar. Aku hanya mulai mencium
bau amis di udara yang seharusnya bau tanah basah."
Markiyo
mendengus, menyimpan kertasnya rapat-rapat. "Besok, patok itu akan
tertancap. Haji Dullah tidak bisa melawan hukum sejarah."
Karmo
tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan amplas. "Hukum sejarah
atau hukum rimba?"
"Hukum
rakyat!" tegas Markiyo.
Karmo
melangkah pergi, namun ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Sastro,
tetangga sebelahmu itu... dia baru saja mengasah parangnya sejak ashar tadi,
dan dia bukan anggota BTI."
Markiyo
mengerutkan kening. "Lalu kenapa?"
"Dia
tidak mengasah parang untuk memotong padi yang belum kuning, Mar."
***
Lampu
minyak bergoyang ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding bambu. Di
hadapan Markiyo, sepuluh pria duduk melingkar dengan wajah-wajah yang keras.
Mereka adalah para petani yang hidupnya habis untuk membayar sewa tanah.
"Malam
ini kita bagi tugas," Markiyo memulai pembicaraan. "Bagian utara
sampai pohon beringin adalah hak kelompok kita."
"Haji
Dullah mengancam akan lapor polisi, Pak Ketua," sahut seorang pria muda
bernama Gito.
"Polisi
tidak bisa berbuat apa-apa kalau rakyat bersatu, Git. Tujuh Setan Desa harus
tumbang. Haji Dullah itu nomor satu di daftar kita."
"Tapi
Pak Haji punya hubungan dengan orang-orang di kota," bisik Gito ragu.
Markiyo
memukul lantai bambu. "Kota itu jauh! Tanah ini di bawah kaki kita! Kalian
mau selamanya jadi kacung?"
"Kami
mau tanah itu, Mar. Tapi kabar dari Jakarta... katanya ada jenderal yang
diculik," Karmo menyela dari sudut ruangan yang gelap.
Ruangan
seketika senyap. Suara jangkrik di luar terdengar seperti teriakan.
"Itu
urusan orang besar di Jakarta," tukas Markiyo cepat. "Jangan biarkan
berita itu memecah fokus kita. Fokus kita adalah tanah!"
"Bagaimana
kalau berita itu mengubah segalanya di sini?" tanya Karmo lagi.
"Tidak
akan! Organisasi kita kuat. Kita punya jutaan anggota!"
Tiba-tiba,
pintu rumah diketuk dengan keras. Semua orang tersentak. Markiyo berdiri,
tangannya meraih sebilah celurit yang tersandar di tiang.
"Siapa?"
teriak Markiyo.
"Buka!
Ini Sastro!"
Markiyo
membuka pintu. Sastro berdiri di sana dengan wajah pucat, matanya liar menyapu
ruangan.
"Ada
apa, Sas? Kamu mau daftar jadi anggota?" sindir Markiyo.
"Bubarkan
rapat ini, Mar! Sekarang juga!" Sastro bicara dengan nada mendesak.
"Kenapa?
Kamu disuruh Haji Dullah?"
"Bukan!
Kamu tidak dengar radio? Situasi sudah berbalik! Di kota, orang-orang kalian
mulai ditangkapi. Truk-truk sudah masuk ke kecamatan sebelah!"
Markiyo
tertawa sinis. "Kamu hanya ingin menakut-nakuti kami supaya tidak jadi
mengambil tanah itu, kan?"
Sastro
mencengkeram kerah baju Markiyo. "Dengarkan aku, bodoh! Aku tetanggamu.
Aku tidak mau melihat anak istrimu menangis besok pagi. Bakar semua atribut
itu! Bakar kertas-kertas merah itu!"
"Lepaskan!"
Markiyo menyentak tangan Sastro. "Kamu pengecut yang tunduk pada tuan
tanah!"
"Aku
bukan tunduk pada tuan tanah, aku sedang berusaha menyelamatkan nyawamu dari
amukan orang-orang desa yang marah!"
"Marah
karena apa? Karena kami menuntut hak?"
"Karena
kalian dianggap pengkhianat negara!" teriak Sastro.
Suasana
menjadi mencekam. Anggota BTI yang lain mulai saling pandang, keraguan mulai
menjalar.
"Pulanglah,
Sastro. Sebelum celurit ini bicara," ancam Markiyo.
Sastro
mundur satu langkah, matanya menatap Markiyo dengan iba yang mendalam.
"Tanah yang kamu dambakan itu, Mar... jangan sampai itu jadi lubang yang
kamu gali sendiri."
"Pergi!"
Sastro
menghilang ke dalam kegelapan malam. Markiyo berbalik ke arah teman-temannya.
"Jangan
dengarkan dia! Dia cuma mata-mata!"
Namun,
Karmo berdiri dan menyampirkan sarungnya. "Maaf, Mar. Aku pulang.
Perasaanku tidak enak."
"Kamu
juga, Mo?"
"Aku
punya anak bayi, Mar. Tanah tidak ada gunanya kalau aku tidak punya kepala
untuk melihatnya."
Satu
per satu anggota rapat meninggalkan rumah Markiyo. Sunyi kembali menyergap,
menyisakan bau minyak tanah yang terbakar.
Sumi,
istri Markiyo, keluar dari balik tirai kamar dengan wajah sembab. "Mas,
tolong... dengarkan Sastro."
"Kamu
juga tidak percaya padaku, Sum?"
"Ini
bukan soal percaya, Mas. Tapi lihatlah ke luar jendela. Kenapa lampu-lampu di
rumah tetangga mendadak padam semua?"
Markiyo
mengintip dari celah dinding. Desa itu gelap gulita, namun di kejauhan, ia melihat
titik-titik cahaya obor yang bergerak mendekat.
"Itu
mungkin patroli kita," gumam Markiyo, meski hatinya berdegup kencang.
"Bukan,
Mas. Itu suara orang-orang yang berteriak menyebut namamu dengan penuh
kebencian."
***
Suara
deru mesin truk terdengar semakin jelas. Cahaya lampu sorot menembus kabut
malam, menyapu dinding-dinding bambu rumah Markiyo. Markiyo memeluk Sumi yang
menggigil. Di sudut ruangan, anak mereka yang baru berusia lima tahun terbangun
dan mulai menangis.
"Sembunyi
di bawah tempat tidur, Sum. Jangan keluar sampai aku panggil," bisik
Markiyo.
"Mas,
ayo lari lewat pintu belakang!"
"Kalau
aku lari, mereka akan membakar rumah ini dengan kalian di dalamnya. Aku harus
bicara."
Markiyo
keluar ke teras. Di sana, puluhan orang sudah berkumpul. Ada Haji Dullah yang
berdiri di barisan depan bersama beberapa pria berseragam hijau dan warga desa
yang membawa bambu runcing.
"Mana
pimpinan pemberontak itu?" teriak sebuah suara.
Markiyo
berdiri tegak, meski lututnya gemetar. "Aku bukan pemberontak! Aku petani
yang menuntut hak atas tanah!"
Haji
Dullah maju, wajahnya yang biasanya tenang kini penuh amarah yang meluap.
"Tanah siapa yang kamu maksud, Mar? Tanah yang aku beli dengan keringatku,
lalu mau kamu rampas dengan secarik kertas merah itu?"
"Itu
perintah undang-undang, Pak Haji!"
"Undang-undangmu
sudah mati! Organisasimu sudah haram!" teriak seorang pemuda desa yang
dulu sering dibantu Markiyo.
Markiyo
menatap pemuda itu, kecewa. "Kamu... kamu lupa siapa yang membantumu saat
bapakmu sakit, Man?"
"Itu
dulu! Sebelum aku tahu kamu mau mengganti Tuhan dengan ideologimu!" sahut
pemuda itu sambil mengacungkan parang.
Seorang
petugas berseragam maju, senapannya teracung ke dada Markiyo. "Markiyo,
menyerahlah. Serahkan daftar anggota BTI di desa ini, dan mungkin kami bisa
mempertimbangkan nyawamu."
Markiyo
tertegun. Janji organisasi terngiang di telinganya: Satu rasa, satu perjuangan.
Jangan pernah mengkhianati kawan. Namun, di dalam rumah, ia mendengar isak
tangis Sumi.
"Saya
tidak punya daftar apa-apa," dusta Markiyo.
"Jangan
bohong! Kami tahu kalian rapat setiap malam!" bentak petugas itu.
"Kami
hanya bicara soal pupuk dan air!"
Haji
Dullah tertawa dingin. "Pupuk yang kamu maksud adalah darah para tuan
tanah, kan? Kami temukan dokumen di balai desa. Namamu ada di urutan teratas
sebagai provokator Aksi Sepihak."
Situasi
semakin panas. Massa mulai merangsek maju. Bau bensin mulai tercium. Seseorang
melemparkan obor ke halaman rumah Markiyo.
"Bakar
saja rumahnya! Bersihkan desa ini dari orang-orang merah!" teriak massa.
"Tunggu!"
teriak Markiyo. "Jangan bakar rumah ini! Ada anak dan istriku di
dalam!"
"Kalau
begitu keluar dan menyerahlah seperti laki-laki!" sahut Haji Dullah.
Markiyo
menoleh ke pintu rumahnya yang tertutup. Ia merasa terjebak dalam pusaran
raksasa. Tanah yang ia impikan—tanah yang ia pikir akan memberinya
martabat—kini terasa seperti beban yang menyeretnya ke dasar laut.
"Mar,
lari!" teriak sebuah suara dari arah kegelapan. Itu suara Sastro.
Tiba-tiba,
sebuah tembakan peringatan dilepaskan ke udara. Suasana menjadi kacau.
Orang-orang mulai berteriak dan berlarian. Dalam kegaduhan itu, Markiyo
merasakan sebuah tangan menariknya ke belakang rumah.
"Ikut
aku, Mar! Lewat kebun jagung!" bisik Sastro yang muncul entah dari mana.
"Bagaimana
dengan keluargaku?"
"Mereka
tidak akan menyentuh perempuan dan anak kecil kalau kamu tidak ada di sana.
Target mereka itu kamu!"
Markiyo
ragu. Ia menatap rumahnya yang mulai dikelilingi massa. Ia melihat Sumi
mengintip dari jendela dengan wajah penuh ketakutan.
"Ayo,
Mar! Tidak ada waktu lagi!"
Markiyo
berlari mengikuti Sastro, menembus rimbunnya batang jagung yang tajam menggores
kulitnya. Di belakang, ia mendengar suara pintu rumahnya didobrak paksa.
"Di
mana dia?!" teriak orang-orang di sana.
Markiyo
terus berlari hingga mereka sampai di tepi sungai yang alirannya deras. Di
sana, Sastro berhenti dan terengah-engah.
"Kenapa
kamu menolongku, Sas? Bukankah kamu benci organisasiku?" tanya Markiyo.
Sastro
menatap Markiyo dengan mata yang berkaca-kaca di bawah sinar bulan. "Aku
tidak peduli dengan organisasimu, Mar. Tapi aku ingat saat kita masih kecil,
kita sering mencuri mangga di kebun Haji Dullah bersama-sama. Aku tidak mau
melihat teman masa kecilku mati karena politik yang dia sendiri tidak
paham."
"Aku
paham! Aku ingin tanah!"
"Tanah
itu milik bumi, Mar. Bukan milik partai, bukan milik Haji Dullah. Kita hanya
menumpang lewat."
Tiba-tiba,
suara langkah kaki terdengar mendekat. Cahaya senter menyambar-nyambar ke arah
mereka.
"Itu
mereka! Di dekat sungai!"
Sastro
mendorong Markiyo ke arah semak-semak yang rimbun di pinggir tebing sungai.
"Sembunyi di situ! Jangan bersuara!"
Markiyo
meringkuk, menahan napas. Ia melihat Sastro berdiri tegak, sengaja menampakkan
diri.
"Hei!
Di sini!" teriak Sastro sambil berlari ke arah yang berlawanan dengan
persembunyian Markiyo.
Massa
mengejar Sastro, mengira itu adalah Markiyo. Markiyo hanya bisa terpaku, air
mata menetes di pipinya yang kotor. Ia mendengar suara teriakan, suara pukulan,
dan kemudian... keheningan yang panjang.
***
Pagi
harinya, kabut tebal menyelimuti desa. Markiyo keluar dari persembunyiannya
dengan tubuh yang kaku dan dingin. Ia berjalan mengendap-endap menuju desanya.
Suasana terasa sangat sunyi, seolah-olah seluruh kehidupan telah tersedot
habis.
Ia
sampai di depan rumahnya. Rumah itu masih berdiri, namun jendelanya hancur dan
dindingnya penuh dengan coretan cat merah bertuliskan "PENGKHIANAT".
"Sumi?"
panggil Markiyo lirih.
Tidak
ada jawaban. Ia masuk ke dalam. Rumah itu kosong. Barang-barangnya berantakan.
Di atas meja makan, ia melihat piring berisi tiwul yang sudah dikerubuti semut.
Markiyo
keluar dengan langkah gontai menuju sawah yang menjadi sengketa. Di sana, ia
melihat kerumunan orang berkumpul di pinggir sungai. Hatinya mencelos.
Ia
mendekat, mencoba tidak terlihat. Di tepi sungai, ia melihat sesosok tubuh
tergeletak tertutup daun pisang. Haji Dullah berdiri di sampingnya dengan wajah
datar.
"Kasihan
Sastro," gumam seseorang di kerumunan. "Dia mencoba melindungi
temannya yang merah itu, malah dia yang kena amuk massa karena dikira
Markiyo."
Lutut
Markiyo lemas. Ia ambruk di balik pohon besar. Sastro mati karena dirinya.
Tanah yang ia perjuangkan tidak membuahkan apa-apa selain darah temannya
sendiri.
"Dan
Markiyo?" tanya orang lain.
"Dia
hilang. Mungkin hanyut, mungkin sudah lari ke hutan. Tapi tentara sudah
menandai namanya. Tidak akan ada tempat baginya di negeri ini."
Markiyo
menatap tangannya yang kasar. Tangan seorang petani. Tangan yang hanya ingin
memegang cangkul dan mengolah tanah sendiri. Kini tangan itu terasa sangat
kotor.
Tiba-tiba,
sebuah bayangan jatuh menimpanya. Markiyo mendongak. Karmo berdiri di sana
dengan wajah yang tidak bisa ditebak. Karmo tidak berteriak, tidak memanggil
orang. Ia hanya menatap Markiyo dengan tatapan kosong.
"Kamu
masih hidup, Mar?" bisik Karmo.
Markiyo
tidak menjawab. Ia hanya bisa terisak tanpa suara.
"Sumi
dan anakmu dibawa ke rumah ibunya di desa seberang. Mereka aman untuk
sementara. Tapi kamu... kamu harus pergi jauh, Mar."
"Ke
mana, Mo? Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak punya apa-apa."
Karmo
berjongkok, menyerahkan sebuah bungkusan kain kecil. "Ini ada sedikit nasi
dan uang. Pergilah ke arah gunung. Jangan pernah kembali ke desa ini."
Markiyo
menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. "Tanah itu, Mo... tanah
janji itu..."
Karmo
tersenyum getir, senyum yang lebih mirip sebuah luka. "Tanah itu sudah
lama hilang, Mar. Sejak kita mulai membagi-baginya dengan kebencian, tanah itu
sudah bukan milik kita lagi."
Markiyo
berdiri, menatap sawah Haji Dullah untuk terakhir kalinya. Hijau padi yang
mulai tumbuh seolah mengejeknya. Politik telah mengambil segalanya:
persahabatan, keluarga, dan harapan.
"Kenapa
kamu membantuku, Mo? Kamu juga bisa celaka."
Karmo
menoleh ke arah kerumunan di pinggir sungai, lalu kembali menatap Markiyo.
"Karena
aku juga anggota BTI, Mar. Dan aku tidak mau daftar nama yang kamu bawa itu
jatuh ke tangan mereka."
Markiyo
tertegun. Ia meraba sakunya. Kertas daftar anggota itu masih ada di sana.
"Bakar
kertas itu sekarang, Mar," perintah Karmo dengan suara yang tajam dan
dingin.
Markiyo
mengeluarkan kertas itu. Kertas yang dulu ia anggap sebagai tiket menuju kemakmuran.
Dengan tangan gemetar, ia menyalakan korek api. Api menjilat kertas itu,
mengubah nama-nama teman seperjuangannya menjadi abu yang diterbangkan angin
gunung.
"Sekarang
larilah, sebelum mereka sadar siapa yang sedang berdiri di bawah pohon
ini," bisik Karmo.
Markiyo
mulai melangkah mundur, matanya masih menatap abu yang melayang. Ia berbalik
dan mulai berlari menuju hutan, meninggalkan desanya, meninggalkan mimpinya,
meninggalkan tanah yang dijanjikan yang kini berubah menjadi kabut.
Di
kejauhan, ia mendengar suara teriakan Haji Dullah yang menggelegar.
"Cari
Markiyo sampai ketemu, hidup atau mati!"
Spirov Lengking,
62029032130801